Sesuai dengan janji yang sudah dikatakan oleh Clarissa pada mantan suaminya, tidak mungkin dirinya membiarkan putri bungsunya itu bertemu.
"Ayah pasti sibuk kerja, Cantika. Jadi untuk hari ini lebih baik kita main berdua saja ya." Clarissa berusaha untuk memberikan pengertian.
Beruntung gadis kecilnya percaya, sebab memang dari dulu sewaktu masih tinggal bersama Raka selalu diabaikan dan bahkan pria itu lebih mementingkan pekerjaannya.
Setelah kurang lebih tiga puluh menit melangkahkan kaki, akhirnya mereka berdua sampai di taman. Mereka berdua bercanda gurau bersama, terlihat sudah tidak ada lagi beban yang dirasakan oleh Clarissa. Mungkin sebentar lagi tidak akan ada ruang di hatinya untuk memikirkan masa lalu.
Cantika sudah terlihat kelelahan, jadi wanita itu pun mengajak putrinya pulang. Namun, sebelum itu Clarissa membelikan ice cream untuk putrinya karena pernah berjanji dan belum ditepati.
"Terima kasih, Bunda. Cantika senang dibelikan ice cream ini," ujar Cantika memeluk erat tubuh Clarissa.
"Sama-sama. Cepat habiskan, sebelum meleleh." Clarissa mengingatkan sembari membantu Cantika dengan menyuapinya.
Begitu cepat putri kecil itu menghabiskan ice kesukaannya. Setelah itu mereka pulang bersama-sama.
"Bunda, Cantika capek." Cantika mulai merengek.
Clarissa langsung menggendong putrinya agar tidak kelelahan lagi.
Sesampainya di rumah, wanita cantik itu menaruh putrinya di atas tempat tidur. Kemudian dirinya segera memasak sebelum putri sulungnya pulang dari sekolah.
Dia cuma bisa memasak ala kadarnya saja, yang terpenting putri-putrinya makan dan perutnya kenyang. Siang ini dia akan memasak oseng-oseng tempe, tidak lupa membuatkan jus jeruk juga untuk Vera. Kurang setengah jam lagi putrinya itu akan pulang ke rumah.
Selesai menyiapkan makan siang, Clarissa mulai membersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya sebagai wanita muslimah.
"Bunda, Vera pulang?" Suara putrinya terdengar ke telinga, beruntung wanita cantik itu sudah menyelesaikan semua aktivitasnya.
Dia segera menghampiri putrinya untuk bertanya kepada pulang sekolah lebih awal.
"Bunda, penjualan hari ini laris. Semuanya ludes, Bunda. Teman-teman Vera juga banyak yang suka." Vera berbicara dengan wajah berseri-seri.
"Alhamdulillah, Bunda senang mendengarnya." Clarissa memberikan senyuman, lalu memeluk hangat tubuh putrinya.
"Oya, kenapa pulangnya lebih awal?" tanya Clarissa memastikan, dia tidak ingin putrinya bolos.
"Guru-guru ada rapat, Bunda. Makanya pulang lebih awal," sahut Vera jujur.
Selanjutnya, Clarissa meminta putrinya duduk agar bisa makan siang bersama. Namun, gadis cantik itu justru pamit untuk mengganti pakaiannya dan melaksanakan kewajiban lima waktunya.
"Oya, Bunda hampir saja lupa. Kalau begitu Bunda tunggu di sini ya." Clarissa memberikan senyuman.
"Baik, Bunda." Setelah menyerahkan uang hasil jualan, Vera pergi ke kamar.
Senyuman mengembang di bibir Clarissa sembari menghitung uang hasil jualan. Dia tidak berhenti mengucap syukur atas anugrah yang didapat hari ini. Dia jadi lebih bersemangat untuk menjalani bisnis yang menguntungkan baginya. Wanita cantik itu juga berniat akan membagikan nasinya nanti kalau semisal laris manis secara gratis. Namun, untuk sementara waktu dia mau melihat dulu sejauh mana perkembangan pelanggan yang menyukai masakannya.
Dia bahkan sudah berpikir jauh untuk membuka warung nantinya. "Semoga saja apa yang aku harapkan terwujud. Aamiin." Clarissa menulis hasil pendapatan di buku besar yang sudah dibeli sebelumnya.
"Bunda, dik Cantika mana?" tanya Vera yang telah selesai melakukan kewajiban.
"Dia tidur, mungkin kecapean karena tadi bermain perosotan di taman." Clarissa menjawab sembari menatap lekat wajah putri sulungnya.
"Oh. Jadi tadi Bunda dan dik Cantika ke taman?" tanya Vera memastikan.
"Iya, kasihan adikmu. Dia kelihatannya bosan di rumah terus, jadi Bunda ajak ke sana."
"Iya, Bunda. Memang seharusnya dik Cantika harus banyak bermain di luar agar tidak bosan di dalam rumah terus. Oya, Bunda. Besok masaknya lebih banyak lagi ya, Bun. Soalnya teman-teman di sekolah pada suka. Ada yang pesan juga karena tadi sempat kecewa karena tidak kebagian." Vera menjelaskan dengan antusias.
"Siap." Clarissa memberikan senyuman. Kemudian wanita itu menuangkan nasi serta oseng-oseng tempe di atas piring Vera.
"Kamu harus makan yang banyak, Vera. Biar badanmu selalu sehat," ujar Clarissa tidak ingin putrinya sakit.
"Pasti, Bunda." Vera memberikan senyuman.
Tidak ada obrolan lagi antara mereka berdua, baik Vera maupun Clarissa sedang asik mengunyah makanan mereka masing-masing.
Selesai makan siang, Vera membantu sang Bunda mencuci piring. Meskipun sudah dilarang oleh Clarissa, tapi tetap saja gadis itu rajin.
Selanjutnya, mereka berdua mulai mengobrol perihal usaha mereka ke depan. Vera sangat setuju dengan ide yang dimiliki bundanya.
"Kenapa tidak dimulai dari sekarang saja, Bunda? Kan lumayan, sementara aku jualan di sekolah. Bunda di rumah juga buka warung," ujar Vera tidak sabar jika harus menunggu lama.
"Tapi Bunda masih belum percaya diri, Vera. Lagian kita belum punya tempat untuk membuka warung." Clarissa memang sedikit ragu.
"Halaman depan 'kan bisa dijadikan warung, Bunda." Vera terus memberikan solusi.
"Iya, tapi di halaman 'kan kondisinya seperti itu." Clarissa tidak yakin akan ada yang mampir ke warungnya nanti.
"Tenang saja, Bunda. Kita bersihkan saja sekarang juga. Kemudian kita bisa menggunakannya besok." Vera begitu antusias.
"Lantas tempat untuk nasi serta lauknya di mana? Kita 'kan butuh etalase juga?" tanya Clarissa yang memang tidak memiliki ide cemerlang. Dalam dirinya masih dominan kekhawatiran.
"Tenang saja, Bunda. Kita tidak perlu menggunakan etalase. Sementara, kita cukup menggunakan peralatan seadanya. Seperti rak yang tidak dipakai itu, dan juga bangku." Vera menunjuk ke arah barang yang tidak terbengkalai.
Clarissa mulai tersenyum tipis, dia tidak menyangka kalau putrinya bisa memikirkan hal itu di saat semua tidak terpikirkan olehnya.
"Bagaimana? Bunda setuju 'kan?" tanya Vera memastikan.
"Setuju. Kapan kita memulainya?" tanya Clarissa meminta persetujuan dari putrinya.
"Lebih cepat lebih baik, Bunda. Sekarang juga ayok!" Vera memiliki penuh semangat.
"Kamu gak capek? Mending istirahat siang saja dulu."
"Enggak perlu, Bunda. Sekarang bukan waktunya untuk bersantai ria." Vera menyeringai.
Setelah membicarakan semua, mereka berdua pun segera membersihkan halaman agar lebih rapi lagi. Juga tidak lupa menatap rak susun yang tidak terpakai dan juga bangku di teras depan rumah. Semua harus terlihat rapi, agar pelanggan yang datang tidak merasa jijik.
Mereka melakukan semuanya dalam waktu kurang lebih satu jam dan pada akhirnya semuanya selesai seperti yang mereka inginkan. Di saat mereka sedang duduk bersantai, Guntur datang dengan senyuman yang menggoda.
"Aku 'kan sudah bilang, kalau kalian butuh bantuan tinggal katakan saja padaku. Kenapa kalian membereskan semuanya sendiri?" tanya Guntur dengan segala bentuk perhatiannya.
Vera malas untuk meladeni, jadi dia meminta dengan baik kepada Guntur agar segera pergi sebelum dirinya berteriak. Jelas saja pria itu takut hingga pergi begitu saja, bahkan dia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang ingin bertemu dengan Clarissa.