Guntur terus merayu, tapi tidak digubris oleh Clarissa.
"Ini sudah malam, Pak. Apa gak sebaiknya anda pulang? Gak enak juga sama tetangga," ujar Clarissa berniat mengusir dengan cara halus.
"Tetangga sudah pada tidur kok, kamu gak usah takut gitu. Lagian kamu juga gak punya suami 'kan? Apa kamu gak butuh belaian kasih sayang?" Guntur berbicara to the point. Hasrat yang dimiliki sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Sebaiknya anda pergi, Pak. Kalau tidak, aku akan berteriak sekarang juga!" ancam Clarissa dengan suara gemetar.
"Aku tidak akan pergi. Ayolah, jangan jual mahal gitu. Aku akan memotong uang kontrakan jika kamu mau melayaniku malam ini." Guntur tersenyum sinis.
Mendengar hal itu membuat Clarissa bergidik ngeri, bagaimana tidak? Pria yang baru dikenal dengan tidak tahu malu berbicara hal yang sama sekali tidak pantas.
Clarissa hendak menutup pintu, tapi dicegah Guntur dengan kaki kanannya. "Malam ini kamu tidak akan bisa lepas dariku." Mulutnya tersenyum lebar.
Wanita cantik itu tetap berusaha agar Guntur tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. Wajah cantiknya mulai mengeluarkan keringat karena sudah tidak kuat menahan pintu terlalu lama. Otaknya mulai berpikir kembali mencari jalan keluar. Di saat genting, beruntung Endah datang menghampiri.
"Oh! Jadi Bapak di sini malam-malam? Ibu kira ke mana?"
Mendengar suara sang istri, Guntur langsung menarik kakinya dan membiarkan Clarissa untuk menutup pintu. Namun, Endah mencegah wanita cantik itu untuk menutupnya.
"Kamu jangan coba-coba untuk merayu suamiku, ya! Jika kamu ingin hidup damai dan tentram di lingkungan sini." Endah memberikan sebuah ancaman. Padahal jelas-jelas sang suami yang salah, tapi justru Clarissa yang kena getahnya.
Wanita cantik yang mengenakan jilbab berwarna hitam pun memberikan senyuman, sebab tidak tahu harus bagaimana untuk menanggapi.
"Dan untukmu, Pak. Ibu tidak akan segan-segan mengusirmu jika berani macam-macam. Ingat, Pak. Di sini yang kaya itu aku, kamu tidak akan seperti sekarang jika bukan karena harta warisan yang aku miliki," ujar Endah yang memiliki gelang emas yang banyak di tangan kanannya. Ternyata dia yang punya kuasa, bukan suaminya.
"Iya, Bu. Gak usah diperjelas juga, malu sama penghuni baru rumah kita," bisik Guntur merasa kehilangan muka.
Endah tidak berkata apa pun lagi setelah memandang sinis ke arah Clarissa, tangannya mulai menarik lengan sang suami untuk pulang bersama-sama. Masih terlihat hingga jauh kedua sepasang suami istri itu masih berdebat.
Clarissa mengembuskan napas secara kasar, dia tidak menyangka kalau ternyata menjalani hidup sebagai seorang janda tidak semudah apa yang ada dipikirannya.
Dia kembali ke dapur untuk menyelesaikan beres-beres serta menyiapkan bumbu-bumbu dapur untuk memasak makanan yang akan dijualnya besok. Setelah semuanya beres, barulah dia pergi ke kamar untuk memejamkan matanya.
Di dalam kamar, terlihat pemandangan yang membuat hatinya sejuk seketika. Di mana kedua anaknya sudah tertidur pulas sembari berpelukan. Dia perlahan mendekat, lalu mengelus rambut Vera dan Cantika secara bergantian.
"Bunda janji kalian akan tetap bahagia sekalipun tanpa seorang ayah, kalian harus kuat ya. Terima kasih juga karena sudah menemani Bunda dan memberikan banyak pelajaran berharga dalam hidup Bunda." Clarissa bermonolog. Tidak terasa buliran bening menetes hingga ke pipinya. Air matanya itu bukan tanpa alasan, melainkan perasaan bersalah karena belum bisa membahagiakan kedua putrinya dan memberikan kehidupan yang layak untuk keduanya.
Netranya sudah tinggal lima watt, hingga pada akhirnya Clarissa tertidur di samping Vera.
***
Pagi kembali menyapa dengan sinar mentari yang begitu cerah dan membuat Clarissa semakin semangat untuk menjalani hari-harinya. Dia sudah menyiapkan dua puluh nasi bungkus untuk dijual oleh Vera. Dia sudah bangun sejak tadi sebelum subuh, setelah melaksanakan kewajiban secara berjamaah dengan putri sulungnya. Barulah dia mulai memasak semua yang dibutuhkan hari ini.
"Nasi bungkusnya cuma dua puluh, Bunda?" tanya Vera setelah menghitung beberapa nasi bungkus yang sudah masuk ke dalam kantong kresek.
"Iya, untuk sekarang kita sediakan segitu saja dulu. Nanti kalau semisal laris, barulah Bunda akan membuatkan yang lebih." Clarissa menjelaskan alasan kenapa nasi bungkusnya cuma sedikit.
"Iya juga sih, Bunda. Dari pada nanti mubazir," ujar Vera yang paham dengan maksud sang Bunda.
"Ya sudah, sekarang kamu sarapan dulu. Setelah itu berangkat sekolah, jangan sampai terlambat." Clarissa menasihati.
Vera yang memang sudah siap seusai sholat subuh pun tidak mungkin berlama-lama. Segera gadis cantik itu menyelesaikan sarapannya, lalu berpamitan kepada Clarissa.
"Hati-hati di jalan, ya. Maaf, Bunda tidak bisa mengantarkanmu ke sekolah." Clarissa kembali teringat masa lalu, di mana putrinya selalu diantar dengan mengendarai mobil milik keluarga.
"Gapapa, Bunda. Nanti Vera naik ojek atau angkot saja. Bunda jaga diri baik-baik di rumah ya, Bun." Vera mulai mencium punggung tangan Clarissa.
"Kamu juga hati-hati di jalan."
"Siap, Bunda."
Kepergian Vera membuat rumah menjadi sepi kembali karena Cantika juga belum bangun dari mimpi indahnya. Biasanya putri bungsunya itu pasti bangun ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Sebelum putri kecilnya bangun, Clarissa mulai membersihkan rumah dengan cepat. Kemudian duduk bersantai sembari menikmati teh hangat yang sudah dibuatnya.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, saat ini jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit. Putrinya kecilnya juga sudah bangun dari mimpi indahnya.
"Bunda, Cantika mau main ke taman?" rengek Cantika di pangkuan sang Bunda.
Clarissa tidak mungkin menolak permintaan putri kecilnya itu, sebab dia tahu berada di rumah terus juga terasa sangat membosankan.
Wanita cantik itu pun mulai mengajak putri kecilnya untuk mandi terlebih dulu, lalu memakaikan pakaian bagus. Sedangkan Clarissa hanya perlu mengganti pakaian dengan yang lebih baik dari pakaian yang biasa dipakai di dalam rumah.
Karena sedang menghemat pengeluaran, Clarissa cuma bisa mengajak Cantika untuk jalan kaki. Sesekali wanita itu menggendong putri kecilnya itu.
"Bunda sampai kapan Bunda marahan dengan ayah?" tanya Cantika dengan wajah polosnya.
Mendengar pertanyaan itu membuat Clarissa sedih, sebab tidak bisa memberikan keluarga yang utuh untuk anak-anaknya.
"Bunda dan Ayah tidak lagi marahan," sahut Clarissa tidak tahu harus berbicara apalagi.
"Lantas kenapa kita tidak tinggal bersama ayah lagi?" tanyanya. Terlihat jelas dari raut wajah Cantika bahwa dirinya sedang merindukan ayahnya.
"Kita tidak bisa tinggal dengan ayah lagi, Cantika. Tapi kalau kamu memang merindukan Ayahmu. Bunda bisa mengantarkanmu bertemu dengannya." Clarissa tidak punya pilihan lain. Meskipun dirinya sudah berpisah dengan Raka, bukan berati dia akan melarang sang anak untuk bertemu dengan ayahnya.
"Ya sudah, Bunda. Kalau gitu ajak ayah juga untuk bermain bersama kita di taman hari ini." Cantika terlihat senang, sedang Clarissa merasa bingung dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Mungkinkah dia akan menghubungi Raka?