Wanita cantik yang memiliki rambut sebahu memandang ke arah Guntur dengan sinis, lalu melangkahkan kaki kembali ke arah Clarissa.
Wanita yang tidak dikenal sebelumnya, tapi sudah membuat hatinya terluka.
"Kamu masuk duluan, Ver. Bunda masih ada urusan." Clarissa memerintah. Bagaimanapun, bukan waktunya Vera ikut campur urusan orang dewasa. Wanita yang sudah merusak kebahagiaan rumah tangganya mulai mendekat. Namun, Clarissa masih heran, entah dari mana Caca mengetahui alamatnya yang sekarang. "Mau ngapain kamu ke sini?" tanya wanita berkerudung hitam dengan sinis.
"Rupanya kamu masih mengingatku ya! Bagus kalau gitu, jadi aku tidak perlu susah payah untuk memperkenalkan diri lagi." Caca memberikan semuanya miring.
"Oya, sebelumnya kamu gak usah heran dari mana aku tahu kamu tinggal di sini. Soalnya aku menyuruh mata-mata untuk mencari tempat tinggalmu yang baru. Ternyata kamu tidak pergi jauh, cuma ya ... aku minta setelah ini kamu harus menjauhi mas Raka karena aku akan segera menikah dengannya setelah bercerai. Kamu tinggal menunggu suratnya datang saja, dan segera tandatangani." Caca tersenyum puas. Dia merasa telah menang karena berhasil mendapatkan pria yang selama ini dicintainya.
"Kamu gak usah khawatir tentang itu. Yang perlu kamu khawatirkan calon suamimu itu. Jangan sampai apa yang aku alami juga kamu alami nanti." Clarissa berbicara tegas, sudah kering rasanya air matanya. Jadi, wanita itu tidak akan menangis hanya karena harus kehilangan suami yang tidak tahu diri.
"Bagus kalau gitu, berati kamu tahu diri juga. Setelah surat cerai kalian selesai, aku sendiri yang akan datang ke rumah ini lagi untuk memberikannya langsung padamu," ujar Caca tersenyum sinis.
"Gak usah repot-repot, tinggal kirimkan saja lewat pos." Clarissa benar-benar muak bertemu dengan wanita yang sudah menggoda suaminya.
"Oke, lagian aku juga malas bertemu denganmu lagi." Caca berlalu pergi setelah membuat peringatan terakhir pada Clarissa agar tidak mendekati calon suaminya lagi.
"Kamu berhak mendapatkan sampah yang aku buang, jadi tidak usah khawatir aku akan hadir ke dalam hidup kalian lagi." Clarissa berbicara sedikit berteriak. Hatinya dongkol, tapi secepat mungkin dia beristighfar agar tidak semakin terbawa emosi.
Wanita cantik itu pun masuk ke rumah untuk menenangkan diri.
"Siapa, Bun? Temannya Bunda?" tanya Vera menghampiri Clarissa yang sedang duduk santai di kursi.
"Dia pacar ayahmu, Ver." Clarissa menjawab singkat.
Mendengar perkataan sang Ibunda, bahkan Vera ikut kesal. "Kenapa tidak bilang dari awal, Bun. Tahu gitu aku amuk."
"Biarlah, Ver. Lagian yang salah bukan hanya dia, tapi ayahmu juga. Mereka sudah sama-sama saling cinta, jadi percuma juga kalau harus kesal kepada salah satu pihak saja." Clarissa berusaha untuk menenangkan hati putrinya.
Vera menarik napas panjang, lalu mengembuskan napas secara perlahan. "Mending kita fokus pada masa depan saja, Bun. Aku sudah menganggap ayah sudah tiada."
"Jangan begitu, Vera. Meskipun dia sudah jahat, tapi bukan berarti kamu harus membencinya." Clarissa memberikan nasihat.
"Vera tidak bisa, Bun." Hati Vera terlanjur terluka karena kelakuan ayah kandungnya sendiri.
Clarissa tidak membahasnya lagi, sebab dia tahu dengan watak putrinya. Jadi, dia mengalihkan pembicaraan dengan membicarakan bisnis yang saat ini mereka geluti.
Mereka kembali menata teras depan untuk berjualan besok. Setelah semuanya selesai, mereka akhirnya bisa beristirahat. Cantika bangun tepat waktu di saat mereka sudah duduk bersantai. Gadis kecil itu minta makan karena perutnya sudah lapar.
Wajah Clarissa dan kedua putrinya terlihat bahagia karena hidup yang dijalani tentram dibandingkan ketika bersama keluarga Dania. Sudah tidak ada lagi orang yang akan menuntut serta mengatur hidup mereka.
Ketika mereka sedang asik bercanda, sebuah ketukan pintu terdengar di luar rumah. Segera Clarissa beranjak untuk membuka pintu, tapi sebelum itu dia melihat dari kaca jendela terlebih dulu. Ternyata yang datang merupakan tetangganya, wanita cantik itu pun antusias membuka pintu dan menyambut tamunya.
"Salam kenal, Bu. Namaku Zahra, tetangga sebelah Ibu." Zahra begitu antusias memperkenalkan diri setelah mengucapkan salam. Dia mengulurkan tangan kanannya, sementara tangan kiri membawa makanan.
Tanpa ragu Clarissa memperkenalkan diri juga, lalu mempersilakan Zahra masuk dan duduk bersama.
"Gak usah repot-repot, Bu. Kedatanganku ke sini cuma ingin kenalan saja, sekalian memberikan oleh-oleh untuk kalian." Zahra menaruh makanan berupa martabak di atas meja.
"Gak repot kok, Bu." Clarissa tetap membuatkan teh untuk tamunya. Sementara Vera dengan inisiatif sendiri datang menghampiri Zahra. Dia memperkenalkan diri, juga membawa Cantika.
Sikap gadis kecil yang ramah membuat Zahra merasa senang bersamanya. Bahkan gadis kecil itu juga bisa membuat tamunya betah berlama-lama.
"Lagi ngobrolin apa sih? Kayaknya seru banget," ujar Clarissa dengan membawa segelas teh hangat buatannya.
"Biasa, Bunda. Lagi bahas masalah anak muda," sahut Vera menyeringai.
"Putrimu lucu-lucu ya, bukan cantik saja." Zahra memuji.
"Maaf ya, Bu. Kalau ada ucapan dari putriku yang tidak berkenan." Clarissa merasa tidak nyaman, khawatir Vera berbuat kesalahan.
"Putrimu asik kok. Gak ada yang salah, malah seru bersamanya seperti muda lagi." Netra Zahra terlihat jujur.
Kedatangannya membuat suasana rumah Clarissa semakin menyenangkan saja, tapi sayang Zahra tidak bisa berlama-lama, sebab masih ada pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Setelah meminum teh hangatnya hingga tandas, dia pun pulang. Namun, sebelum itu Vera mempromosikan masakannya yang akan dijual besok.
"Jangan lupa mampir ya, Tante. Kalau memang tidak keberatan," kata Vera memberikan senyuman.
"InsyaAllah besok Tante mampir." Zahra membalas senyuman. Sedangkan Clarissa sibuk menyenggol lengan Vera agar tidak berbicara terlalu banyak tentang usahanya.
"Bunda, kalau mau jualannya laris memang harus begitu, Bun." Vera memberikan nasihat saat Zahra sudah tidak terlihat lagi.
"Tapi kita belum tahu, Ver. Takutnya masakan kita tidak cocok di lidahnya." Clarissa masih pesimis saja.
"Vera yakin masakan Bunda pasti cocok di lidah semua orang." Vera masih terus memuji masakan sang Bunda.
"Bismillah ya." Clarissa hanya bisa berdo'a dan berharap pada Allah.
Vera kemudian pamit untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh gurunya, sedang Clarissa menemani Cantika bermain.
"Bunda, kapan ayah ke sini?" tanya Cantika. Clarissa tidak heran kalau sang anak sering menanyakan keberadaan Raka, sebab Cantika memang belum tahu apa-apa.
"Ayah masih sibuk, Cantika. Main sama Bunda saja ya," ujar Clarissa pelan.
Cantika memeluk sang Bunda lalu berkata, "Tapi Cantika sudah rindu, Bun."
Tanpa disadari wanita cantik itu pun meneteskan air mata, dia memang tidak pernah menginginkan semua ini. Namun, bagaimana lagi? Sudah menjadi garis takdirnya harus pisah dengan suaminya, Raka.
Clarissa terdiam, sebab tidak tahu harus berbicara apalagi kalau sudah menyangkut rindu. Untuk berdusta juga tidak mungkin, sebab dia tidak ingin hati Cantika semakin terluka. Apakah mungkin wanita cantik itu membuang egonya dan membiarkan mantan suaminya bertemu dengan putrinya?