"Kamu yang akan menempati rumah kontrakanku ini?" tanya Guntur pemilik rumah kontrakan.
Clarissa menganggukkan kepala secara perlahan dengan wajah sedikit ketakutan.
"Bertiga saja? Apa ada suamimu juga?" tanya Guntur sembari melihat ke sekeliling.
"Iya, bertiga saja." Vera menyahut. Gadis itu terlihat berani dibandingkan sang bunda.
Guntur menyeringai, lalu membawa mereka bertiga untuk melihat ke sekeliling rumah kontrakan. Di halaman sudah tumbuh rumput liar, terlihat jelas kalau pemilik rumah tidak pernah merawat rumah itu sebaik mungkin. Lebih tepat terlihat seperti rumah terbengkalai. Beruntung bangunan rumah itu masih kokoh dan memiliki warna tembok yang masih terlihat sedikit bagus. Tinggal Clarissa bersihkan, pasti rumah itu akan siap untuk dihuni.
Di dalam rumah hanya ada satu kamar tidur dan satu kamar mandi, serta ruang tamu. Sedangkan untuk dapur ada di ruangan belakang. Meskipun terlihat sempit, setidaknya mereka punya tempat untuk berteduh serta kehujanan.
Setelah melihat-lihat, akhirnya Clarissa dan kedua anaknya memilih untuk tinggal di sana. Uang hasil dari penjualan cincin pernikahan pun di berikan pada Guntur.
"Kalau butuh bantuan atau sesuatu, kalian tinggal bilang saja sama aku. Aku pasti akan membantu kalian," ujar Guntur yang memiliki niat tersembunyi dari kebaikannya.
"Iya, Pak." Hanya itu yang bisa Clarissa katakan.
"Ya sudah kalau gitu, aku pergi dulu. Kalian silakan istirahat saja, uangnya aku terima ya." Guntur memberikan senyuman manis. Dia terlihat bahagia membawa uang dari penyewa rumahnya.
Clarissa memberikan senyuman dan memperhatikan kepergian pemilik rumah tersebut. Selanjutnya, wanita cantik itu pun menaruh Cantika yang masih tidur di atas tempat tidur yang sebelumnya sudah dibersihkan terlebih dulu oleh putri sulungnya.
"Apa yang akan kita lakukan pertama kali, Bunda?" tanya Vera bingung karena rumah yang dipenuhi dengan debu. Sehingga mereka tidak tahu harus membersihkan dari mana dulu.
"Kamu sapu semuanya, biar Bunda yang mengepelnya." Clarissa mulai memerintah.
Selain cantik seperti ibunya, Vera juga gadis yang bisa diandalkan serta rajin membantu ibundanya. Mereka berdua saling bekerja sama agar pekerjaan rumah cepat terselesaikan.
Waktu yang digunakan mereka hampir memakan waktu kurang lebih tiga jam, bahkan Cantika yang awalnya tidur nyenyak kini sudah membuka matanya.
"Bunda, Cantika lapar!" rengek anak kecil itu.
"Kamu yang sabar, ya. Bunda mau belanja dulu." Clarissa pamit, sedangkan Vera diminta untuk tetap berada di dalam rumah untuk menjaga adiknya.
Wanita cantik itu pun mulai mencari toko terdekat untuk membeli bahan pokok makanan untuk satu bulan ke depan dengan sisa uang yang dimiliki. Meskipun uang itu tidak banyak, tapi wanita itu harus pandai-pandai mengaturnya agar cukup.
Hanya membeli tahu, tempe dan telur saja untuk makanan sehari-hari. Untuk membeli ikan mungkin nanti kalau dia sudah menemukan pekerjaan yang tepat. Clarissa juga tidak melupakan beberapa camilan untuk kedua putrinya dan s**u bubuk untuk diminum Cantika.
Selesai berbelanja, Clarissa langsung pulang ke rumah. Dia khawatir dengan kedua anaknya yang ditinggalkan. Meskipun dirinya yakin kalau Vera pasti menjaga adiknya dengan baik, tetap saja dia ingin melindungi kedua putrinya dan tidak bisa jauh terlalu lama.
"Asik! Bunda datang!" seru Cantika kegirangan. Dia berlari menuju Clarissa yang saat itu membuka pintu rumah. Putri dan anaknya saling berpelukan satu sama lain.
"Maaf ya. Kalau Bunda terlalu lama," ujar Clarissa sembari mencium kening Cantika.
"Gapapa, Bunda. Lagian Cantika ditemani bermain sama kak Vera." Senyuman indah terukir jelas di bibir anak kedua Clarissa.
Sedangkan Vera langsung menyambut beberapa kantong plastik berisi belanjaan sang Ibunda.
"Mau ditaruh di dapur Bun?" tanya Vera yang masih berdiri di samping Clarissa.
"Iya," sahut wanita cantik yang saat ini memakai jilbab berwarna hitam.
"Belanjanya kok banyak, Bunda? Apa mungkin semuanya bisa bertahan? Mengingat kita tidak memiliki lemari es untuk menyimpan semua ini." Vera mulai angkat bicara sesuai keadaan yang sedang mereka alami.
Clarissa melupakan hal itu, sebab sudah terbiasa melakukan semuanya. "Bunda lupa, Vera." Wajahnya mendadak lesu.
Gadis yang memiliki kecantikan seperti ibunya pun memiliki sebuah ide agar semua belanjaan tersebut tidak sia-sia.
"Bagaimana kalau kita besok jualan makanan, Bun? Masakan sederhana saja, siapa tahu saja ada yang mau membeli. Sementara 'kan, kita harus bekerja agar memiliki uang tambahan." Vera memang gadis yang pintar perihal keuntungan.
"Ide yang bagus, Vera. Kenapa Bunda gak kepikiran ya?" Terlihat sebuah senyuman mengembang di bibir ranum Clarissa.
Karena waktu sudah malam, akhirnya wanita cantik itu pun menyiapkan makan malam untuk kedua putrinya sebelum mereka mengistirahatkan tubuh.
"Makan malam kali ini enak, Bunda." Vera memuji setelah memakan makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Padahal cuma tempe penyet, tapi gadis kecil itu selalu menyukai masakan bundanya.
"Bagaimana kalau besok kita jual masakan gini saja, Bunda? Tapi dengan porsi sedikit saja, istilahnya nasi kucing. Terus kita jual lima ribuan, pasti laris." Vera berbicara penuh semangat.
"Wah ide yang bagus, Vera. Bunda setuju," ujar Clarissa tidak kalah semangat.
"Besok biar Vera yang bantu jualin, Bunda. Sekalian berangkat ke sekolah." Vera menawarkan diri.
"Memang kamu gapapa?" tanya Clarissa tidak ingin putrinya malu karena membantunya berjualan.
"Gapapa, Bunda. Justru Vera senang, lagi pula nanti hasil penjualan 'kan untukku juga buat bayar sekolah. Biar besok Bunda yang masak, terus aku yang jualin. Bunda di rumah saja temani Cantika," ujar Vera penuh semangat. Clarissa senang karena putrinya tidak hanya cantik, tapi pengertian juga. Mau membantu tanpa ada rasa malu serta pekerja keras.
Clarissa tersenyum tipis. "Bunda setuju selama kamu tidak keberatan."
Mereka akhirnya melanjutkan makan malam yang sempat tertunda karena harus mengobrol terlebih dulu dengan putrinya.
Selanjutnya, Vera membawa adiknya ke kamar untuk tidur. Dia membacakan dongeng untuk adiknya agar bisa tertidur pulas. Sedangkan Clarissa masih harus mencuci piring bekas makan malam tadi.
Dalam lamunannya, wanita cantik itu banyak memanjatkan rasa syukur karena sudah diberikan jalan keluar atas masalah yang dihadapinya. Dia juga berdo'a dalam hati agar besok jualannya laku dan banyak yang menyukai masakannya.
Semua berkat kedua putrinya juga, hingga dirinya bisa kuat sampai detik ini menjalani kehidupan yang tidak gampang ini.
Lamunan wanita itu buyar saat mendengar sebuah ketukan pintu dari luar rumah. Dia segera mengecek, siapakah yang datang malam-malam begini.
Terkejut sudah pasti saat melihat pemilik rumah kontrakan ternyata berdiri tepat di depan pintu.
"Kamu belum tidur?" tanya Guntur dengan tatapan penuh nafsu.
"Belum, Pak. Ada apa ya?" tanya Clarissa gugup.
"Gak usah takut gitu, aku ke sini cuma mau mengecek keadaanmu saja. Apakah kamu kerasan di rumah ini." Guntur memang benar-benar keterlaluan, dia hendak menyentuh dagu Clarissa. Beruntung wanita cantik itu bisa menghindarinya.