Clarissa mendapatkan putrinya kembali berkat bantuan dari orang yang ada di sekitar. Hampir saja mantan suaminya diamuk massa, beruntung segera lari meninggalkan tempat tersebut.
Seusai mengucapkan terima kasih, Clarissa dan putrinya makan bersama dengan dua bungkus makanan yang berhasil dibawanya.
"Habiskan makanannya," ujar Clarissa sembari menyuapi Cantika.
"Bunda gak makan?" tanya Vera saat melihat Clarissa tidak ikutan makan.
"Bunda masih kenyang," dusta Clarissa karena baginya yang terpenting kedua anaknya.
Vera paham dengan situasi serta kondisi yang ada, jadi gadis itu meminta Clarissa agar memakan sesuap nasi dari tangannya.
"Kita makan bersama ya, Bunda." Vera berbicara lirih, sehingga membuat Clarissa terharu.
"Terima kasih," ucap sang Bunda dengan netra berkaca-kaca.
Meskipun sekarang hidupnya terasa sulit, asalkan ada kedua putrinya semua masalah menjadi ringan baginya. Akan tetapi, tetap saja wanita cantik itu merasa kasihan kepada Vera dan Cantika yang harus makan di jalanan seperti ini.
"Kita jadi ke rumah nenek, Bunda?" tanya Vera terlihat capek.
Clarissa berpikir sejenak sebelum memutuskan semua, tapi sudah tidak ada pilihan lain lagi.
"Kita akan pergi ke sana," ujarnya mantap.
Baru saja mereka bergegas untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya, ponsel Clarissa malah berdering. Ternyata ada panggilan dari Siska selaku ibunya.
Awalnya Clarissa senang karena seolah-olah semesta menyetujui dirinya pergi ke rumah orang tuanya. Akan tetapi, semua kebahagiaan sirna saat Siska meminta kiriman uang untuk membayar hutangnya. Sontak saja wanita cantik itu pun meminta maaf karena tidak bisa memberikan uang yang diminta. Dia tidak menceritakan apa pun lagi karena tidak ingin kedua orang tuanya malah kepikiran.
"Bagaimana, Bunda?" tanya Vera yang memang tahu kalau neneknya menghubungi.
"Kita gak bisa tinggal di sana, Vera." Clarissa menjawab singkat.
"Lantas, di mana kita akan tinggal?" tanya Vera terlihat sedih.
Clarissa juga bingung, tapi dia berusaha untuk menghubungi teman dekatnya. Namun, tidak ada yang mau membantu dirinya.
"Dulu saja, waktu aku masih memiliki uang belanja dari mas Raka. Semua teman mendekat, sekarang setelah aku kesusahan. Tidak ada satu pun yang mau membantuku." Clarissa berkeluh kesah.
"Kenapa, Bunda?" tanya Vera mendengar gumaman sang Bunda.
"Gapapa, Vera. Kita cari kontrakan saja dulu, setelah itu Bunda akan usaha cari kerja," ujar Clarissa membawa kembali anaknya pergi. Saat ini wanita itu teringat akan cincin pernikahan yang diberikan Raka. Dia berniat untuk menggunakannya terlebih dulu untuk keperluannya. Jadi, wanita itu membawa kedua putrinya ke sebuah toko emas untuk menjualnya.
Cincin itu tidak ada suratnya, sebab dipegang oleh sang suami. Yang dia tahu cincin itu memiliki harga yang tidak murah. Namun, ternyata lagi-lagi Raka telah membodohinya. Cincin pernikahan yang katanya tidak murah, rupanya cuma seharga sembilan ratus ribu rupiah.
Clarissa mengembuskan napas secara kasar. "Segitu perhitungankah kamu padaku, Mas? Hingga cincin saja dibelikan yang murah. Padahal, kemarin aku meminta yang harganya lebih dari 2 juta." Dia mulai termenung sejenak. "Pantas saja cincinnya kecil, bahkan emas muda yang harganya murah."
Clarissa merenungkan semuanya, hingga menemukan tiada kebahagiaan selama menikah dengan suaminya.
"Bunda, sekarang kita akan ke mana?" tanya Vera sudah lelah melangkahkan kakinya.
Wanita cantik berkerudung hitam itu pun terbangun dari lamunannya. "Kita akan mencari tempat tinggal yang murah. Nanti sisa uangnya bisa buat beli makan sehari-hari."
"Baik, Bunda." Vera memaksakan diri untuk bersemangat. Padahal, tubuhnya sudah lelah dan tidak berdaya.
"Kita istirahat sebentar ya," ajak Clarissa saat melihat putrinya. Perasaan tidak tega muncul dalam hati wanita cantik tersebut.
"Iya, Bunda."
Mereka akhirnya duduk di kursi pinggir jalan sembari melihat lalu lalang kendaraan. Sedangkan Cantika sudah tertidur dengan pulas.
"Mau sampai kapan kita seperti ini, Bunda?" tanya Vera mulai mengeluh.
"Sabar, ya. Nanti Bunda cari jalan keluar, sama cari kerja agar kamu bisa sekolah." Clarissa berharap Vera akan mengerti dengan situasi serta kondisi saat ini.
"Kenapa Bunda gak sama Ayah saja? Kenapa harus pergi?" tanyanya polos.
Sebenarnya Vera belum waktunya mengetahui apa yang terjadi, tapi Clarissa juga tidak bisa menyembunyikan semuanya terlalu lama. Dia pun menceritakan apa yang terjadi, tapi meminta putrinya untuk tidak membenci ayahnya.
"Kalau Vera harus memaafkan Ayah, kenapa Bunda tidak mau memaafkannya?" cetus Vera heran.
"Bunda sudah memaafkannya, tapi tidak untuk bersama lagi, Vera." Clarissa menjawab lirih.
Vera tidak banyak berbicara lagi, tubuh mungilnya langsung memeluk sang Ibunda.
"Bunda jangan khawatir, Vera akan terus berada di samping Bunda. Jangan sedih lagi, ya. Vera yakin kita bisa melewati semua ini." Vera memberikan semangat pada bundanya.
"Terima kasih, Vera. Kamu dan Cantika adalah hadiah terindah yang pernah aku miliki." Clarissa mengelus kepala putrinya. Ingin rasanya mereka berpelukan, tapi tidak memungkinkan karena Cantika masih berada dipelukannya.
Setelah energinya kembali sedikit, mereka akhirnya melanjutkan perjalanan mencari rumah kontrakan yang murah.
"Kita sudah keliling, Bunda. Tapi kok kayaknya susah banget mau cari yang murah." Vera mulai putus asa.
"Sabar saja, Vera. Setelah ini pasti kita akan menemukan yang sesuai dengan budget kita." Clarissa memberikan semangat.
"Kenapa kita tidak kembali ke rumah om Adrian saja, Bunda? Vera rasa dia juga orang yang baik, meskipun para pelayannya tidak baik kepada kita." Vera memberikan usulan.
Tidak mungkin juga Clarissa mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Jadi, dia pun memberikan alasan tidak enak hati pada pria yang sudah menolongnya.
"Lagian kalau kita terus bergantung padanya gak enak, Vera. Nanti dikira kita mau memanfaatkannya. Kita harus mandiri mulai sekarang tanpa harus melibatkan orang lain." Clarissa terus memberikan alasan yang masuk akal.
"Ya juga sih, Bunda." Vera akhirnya mengerti. Mereka pun kembali melangkahkan kakinya. Sesekali mereka berhenti untuk beristirahat, hingga di saat mereka bersantai di salah satu perumahan. Vera menemukan rumah yang ternyata dikontrakkan oleh pemiliknya.
"Bagaimana kalau kita coba ke sana, Bunda? Siapa tahu saja murah," ajak Vera dengan wajah sumringah.
Kalau dilihat dari luar rumah sedikit berantakan, juga terdapat rumput yang semakin memanjang. Sudah jelas kalau rumah itu tidak dirawat oleh pemiliknya.
"Itu ada nomor teleponnya, Bunda. Kita hubungi saja," ujar Vera, lalu membantu Clarissa mengambil alih menggendong adiknya.
Benar saja, kali ini keberuntungan berpihak pada mereka berdua. Ternyata rumah itu dikontrakkan dengan harga lima ratus lima puluh ribu sebulan, jadi uang mereka cukup untuk digunakan.
Memang rumahnya kecil, tapi terpenting mereka bisa mendapatkan tempat tinggal.
"Bagaimana, Bunda?" tanya Vera dengan raut wajah berseri-seri.
"Orangnya mau ke sini, katanya rumahnya yang lain tidak jauh dari sini." Clarissa menjawab singkat. Vera menganggukkan kepala, lalu mereka menunggu pemilik rumah datang.
Sekitar dua puluh menit menunggu, akhirnya pemilik rumah kontrakan datang juga. Seorang pria berkumis tebal menghampiri Clarissa dengan tatapan genit, hingga membuat wanita cantik itu merasa risih.