Clarissa langsung melemparkan kertas itu kembali ke atas meja, lalu berkata, "Jika Tuan merasa keberatan aku dan kedua anakku tinggal di rumah ini, aku akan pergi sekarang juga. Tidak perlu menunggu esok!"
Wanita itu mulai salah paham karena merasa Adrian seakan-akan hanya ingin memanfaatkannya saja. Terlebih saat melihat isi perjanjian pernikahan kontrak tersebut, di mana Clarissa harus menjadi istrinya dan harus menuruti semua keinginannya.
"Jangan terlalu cepat mengambil keputusan, aku akan terus menunggu hingga kamu benar-benar bercerai dari suamimu yang tidak tahu diri itu. Hingga masa iddahmu juga selesai," kata Adrian menjelaskan.
"Bagiku, tetap saja ... yang namanya pernikahan itu adalah hal yang sakral, tidak bisa dibuat mainan." Clarissa tetap pada pendiriannya.
Wanita itu tidak ingin mendengarkan apa pun lagi, jadi dia memilih pergi meninggalkan Adrian seorang diri. Wajah pria itu tampak tenang, meskipun baru kali ini ditolak wanita, tapi dia tidak akan menyerah begitu saja.
"Dia pikir dia siapa? Tidak semudah itu untuk memutuskan sesuatu seenaknya saja. Meskipun dia kaya raya, bukan berati bisa meremehkan aku seperti ini!" gerutu Clarissa sembari berjalan ke arah kamar kedua putrinya.
Dia mulai mengajak Vera dan Cantika pergi dari rumah Adrian. Wanita cantik itu sudah tidak bisa berlama-lama di tempat pria yang dipastikan memanfaatkannya.
"Kita mau ke mana, Bunda? Hari juga semakin malam, di luar juga dingin," lirih Vera. Dia sudah tidak kuat untuk membuka mata, tapi Clarissa malah mengajaknya membereskan barang bawaan mereka.
"Kita keluar dulu dari rumah ini, setelah itu kita pikirkan akan pergi ke mana," kata Clarissa tidak bisa memastikan ke mana mereka akan pergi.
Vera hanya bisa menuruti perintah Clarissa, mereka pergi meninggalkan rumah mewah itu secara diam-diam. Akan tetapi, wanita dan kedua anaknya kepergok oleh Farida.
"Mau ke mana kalian malam-malam begini?" tanya Farida menghardik.
Clarissa tidak ingin berdebat, jadi pergi begitu saja tanpa menghiraukan Farida. Sehingga membuat wanita yang menjadi kepala pelayan rumah mewah itu menjadi curiga. Dia pun meminta bantuan para pelayan lainnya untuk menggeledah tas yang dibawa Vera dan Clarissa.
"Kembalikan tasku!" pinta Clarissa tegas.
"Kita akan memberikannya kembali padamu setelah kita memastikan di dalamnya tidak ada barang berharga yang kamu curi dari rumah ini!" kata Farida ketus.
"Kita bukan pencuri! Jadi, biarkan kita pergi!" pekik Clarissa.
Farida tidak mau tahu, tetap saja menggeledah tas yang dibawa oleh wanita yang dianggapnya sebagai saingan. Setelah diperiksa, ternyata memang tidak ada barang berharga yang ada dalam tas Clarissa.
"Puas kamu sekarang! Sudah aku bilang dari awal kita bukan pencuri!" seru Clarissa memungut kembali pakaian yang berserakan di lantai.
Kepala pelayan mansion tersenyum sengit. "Siapa tahu saja kamu datang hanya untuk mencuri. Dari pada kamu terlalu lama di rumah ini, mending pergi saja sekarang juga!" Farida mengusir. Dia sudah tidak sabar melihat Clarissa pergi, dengan begitu tidak akan ada lagi wanita yang bisa mengambil hati majikannya.
Clarissa melangkahkan kaki tanpa arah dan tujuan bersama Vera, sedangkan Cantika sudah tertidur lelap dalam gendongannya. Beruntung malam ini langit begitu cerah, hingga wanita itu tidak terlalu khawatir kedua anaknya akan kehujanan.
"Apa kita pergi ke rumah nenek malam ini, Bunda?" tanya Vera sudah tidak kuasa menahan kantuk.
"Untuk sementara waktu, kita istirahat di sini dulu, Vera. Besok pagi Bunda akan mencarikan kontrakan untuk kita," kata Clarissa menunjuk ke arah teras ruko yang sudah tertutup.
Wanita itu sadar tempat itu tidak layak untuk kedua anaknya, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Dari pada harus terus melangkahkan kaki, tapi tidak ada tujuan yang ingin disinggahi.
Vera terlihat enggan, tapi mengingat dirinya butuh istirahat. Jadi, dia pun mengikuti perkataan Clarissa. Lagi pula, mereka akan tinggal semalam saja.
***
Mentari kembali bersinar terang, Clarissa dan kedua anaknya masih luntang-lantung di jalan.
'Apa aku harus menerima tawaran Adrian?' pikir Clarissa teringat kembali akan pria yang menawarkan kerjasama dengannya.
"Bunda lagi mikirin apa?" tanya Vera melihat wajah Clarissa menyimpan beban.
"Kalian pasti lapar, maafkan Bunda ya, sebab membuat kalian menderita." Clarissa menjawab pelan.
Rasa kecewa dalam hatinya begitu dalam, sebab tidak bisa membuat kedua putrinya berbahagia. Clarissa membuka dompetnya, ingin melihat uang yang tersisa. Ternyata hanya cukup untuk membeli makanan satu porsi saja. Dia pun meminta Cantika dan Vera menunggu di sebuah taman di pinggir jalan.
"Kalian jangan pergi ke manapun sebelum Bunda datang, ya!" perintah Clarissa.
"Baik, Bunda." Vera mengiyakan, pun Cantika menganggukkan kepala secara perlahan.
Clarissa akan mencari uang tambahan, paling tidak bisa membeli dua bungkus makanan untuk anaknya. Wanita itu pergi ke setiap warung yang ada untuk bertanya apakah ada pekerjaan. Sayangnya, wanita itu tidak menemukannya. Clarissa mulai menarik napas panjang, lalu mengembuskan secara perlahan.
"Harus ke mana lagi aku mencari uang tambahan untuk kedua anakku." Clarissa bergumam.
Dia hanya bisa menyalahkan diri sendiri dan juga keadaan. Kenapa bisa dia melupakan uang yang disimpannya di lemari? Dan membawa dompet yang tersisa beberapa lembar uang warna abu-abu saja di dalam dompet tasnya.
Clarissa mulai mengusap keringat yang bercucuran membasahi keningnya, dia berusaha lagi untuk mendapatkan tambahan uang. Beruntung ada orang baik hati yang menawarkan pekerjaan mencuci piring di warung dan memberikan upah dua bungkus makanan. Bagi Clarissa, itu sudah cukup membuat hatinya senang.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Clarissa kembali ke taman untuk menemui kedua anaknya dengan membawa dua bungkus makanan di genggaman tangannya. Hatinya merasa senang karena Cantika dan Vera akhirnya bisa sarapan, meskipun belum mendapatkan tempat tinggal. Dia mempercepat langkah kakinya untuk sampai di taman tempat meninggalkan kedua anaknya. Namun, pandangan di hadapannya membuat wanita itu kembali naik pitam.
"Lepaskan kedua anakku!" teriak Clarissa melihat Raka menarik paksa tangan Vera, pria itu juga berhasil menggendong Cantika.
"Mereka anakku juga!" Raka membalas dengan berteriak.
Clarissa segera menarik tangan Vera dan memeluknya, lalu mengambil Cantika dari gendongan Raka. Namun, wanita itu tidak kuasa karena pria itu memegang dengan erat.
"Aku sudah mengurus surat perceraian kita, jadi akan kupastikan hak asuk Cantika dan Vera ada padaku. Mengingat kamu tidak akan bisa membahagiakan mereka berdua," ujar Raka tegas.
"Tidak akan kubiarkan semua itu terjadi, Raka!" seru Clarissa tidak terima.
Cantika menangis ingin dipeluk oleh sang Bunda, tapi Raka tidak membiarkan hal itu terjadi. Hingga pria itu berlalu pergi meninggalkan Vera dan mantan istrinya.
"Kembalikan anakku, Raka!" teriak Clarissa mengejar Raka yang membawa kabur Cantika. Pun Vera juga ikut mengejarnya.
Wanita itu sudah kehabisan akal, hingga dia pun berteriak, "Penculikan anak!" Bagaimanapun, wanita itu tidak ingin dipisahkan dari anak keduanya dan ingin terus bersama Vera juga Cantika.