Vera memang anak yang baik dan sayang kepada Clarissa. Jadi, dia akan membantu sembari menggendong Cantika.
"Istirahat saja, Sayang. Aku lihat kamu capek," ujar Clarissa merasa iba dengan keadaan Vera.
"Gapapa, Bunda. Lagi pula aku senang membantu," kata Vera masih dengan semangat yang tinggi.
Apa yang dilakukan mereka diketahui oleh Adrian, hingga Farida kena getahnya. Ketika Clarissa dan kedua anaknya masuk ke kamar tamu, tuan muda itu pun langsung menghardik para pelayan yang ada.
"Mereka itu tamuku, tidak ada yang boleh memperlakukannya secara semena-mena kecuali aku," hardik Adrian membuat para pelayan tertunduk ketakutan.
"Maaf, Tuan." Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Farida. Wanita itu merasa kesal karena Adrian membela Clarissa yang sudah jelas-jelas memiliki dua anak.
"Aku cuma memintamu untuk memberikan pengarahan padanya mengenai rumah ini, tapi bukan berarti kamu berhak memperlakukannya seperti pelayan!" Adrian benar-benar tidak habis pikir dengan kepala pelayan di rumahnya. Bisa-bisanya berpikir kalau Clarissa akan menjadi pelayan juga.
Farida berulang kali meminta maaf, sembari menggerutu di dalam hati. Dia tidak terima karena wanita yang baru datang sudah membuat dirinya dimarahi oleh majikan yang diam-diam dicintai.
"Sekarang panggil mereka untuk makan malam bersamaku!" perintah Adrian dengan wajah yang terlihat masih kesal.
"Baik, Tuan." Para pelayan menjawab secara bersamaan.
Farida muak untuk melihat wajah Clarissa, jadi wanita itu meminta Mawar untuk memanggilkan tamu yang tidak diundang tersebut. Setelah kepergian pelayan suruhannya, dia mulai berkata dalam hatinya.
'Kamu lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan padamu.' Farida mulai tersenyum memiringkan bibirnya.
Clarissa sudah bersiap untuk istirahat malam ini, tapi matanya tidak bisa terpejam ketika mendengar kedua anaknya merintih. Vera dan Cantika sama-sama lapar karena belum makan.
"Sebentar ya, sabar ... Bunda masih mencari cara agar kalian bisa makan." Clarissa terlihat bingung.
"Kenapa kita gak makan makanan yang kita masak tadi, Bunda?" tanya Vera yang mengira kalau di rumah itu bisa mengambil makanan sesuai keinginannya.
"Gak bisa, Sayang. Kita sebagai tamu harus sadar diri, dikasih tempat tinggal untuk istirahat saja kita harus bersyukur. Jangan berharap terlalu lebih, nanti Bunda akan carikan kalian makanan. Asalkan kalian berdua harus tetap di sini menunggu Bunda kembali," kata Clarissa pamit. Dia tidak bisa berdiam diri terlalu lama dan segera mengambil tas yang ada di atas meja tepat di samping tempat tidur.
Di saat Clarissa ingin membuka pintu, justru Mawar datang dan menyampaikan apa yang diperintahkan. Kabar baik itu membuat hati Vera dan Cantika menjadi senang.
Tanpa berpikir panjang, wanita itu langsung menggendong anak kedua dan berjalan berdampingan dengan Vera.
"Kalian berdua harus menjaga sikap ya," kata Clarissa menasihati.
Tentu saja Vera menganggukkan kepala pelan, sedangkan Cantika tersenyum mendengar nasihat dari wanita yang begitu dicintainya.
Dengan ragu mereka duduk di kursi ruang makan sembari memperhatikan beraneka macam makanan yang sudah mereka masak tadi sore.
"Tunggu apalagi? Silakan kalian makan," kata Adrian sembari mengambil piring untuk dirinya.
Vera dengan senang hati mengambil beberapa makanan yang memang sudah sedari tadi ingin dimakannya. Namun, tatapan Clarissa membuat putrinya mengembalikan beberapa makanan tersebut.
"Kalian gak usah sungkan, makan saja yang banyak. Lagi pula, bukankah kalian yang sudah memasak semua ini?" kata Adrian sembari menatap lekat wajah Clarissa.
"Terima kasih, ini saja sudah cukup." Clarissa tidak berani membalas tatapan pria asing tersebut.
Suasana ruang makan kembali hening, mereka tampak sibuk dengan mengunyah makanan. Bahkan Cantika tidak rewel, mungkin perutnya yang lapar membuat anak kecil itu tidak lagi pilih-pilih makanan.
Mereka terlihat seperti keluarga yang utuh dan harmonis, sehingga membuat Farida merasa kesal. Wanita itu hanya bisa memantau dari kejauhan setiap gerak-gerik tamu yang mungkin akan merebut majikan yang dicintainya.
"Harusnya aku yang berada di sana bersama Tuan Adrian. Bukan wanita beranak dua itu! Lagi pula, apa sih, spesialnya wanita yang sudah menikah?" pikirnya mulai membandingkan dirinya dengan Clarissa.
Dia benar-benar tidak tahan melihat semuanya, tapi tidak bisa berbuat apa pun karena ingat akan posisinya yang hanya menjadi pelayan saja.
Makan malam sudah selesai, kini Clarissa mengantarkan kedua anaknya ke kamar. Dia tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada pria yang sudah membantunya.
"Nanti temui aku di ruang tengah," ucap Adrian dingin.
"Baik, Tuan." Hanya itu yang bisa Clarissa katakan.
Clarissa menggendong Cantika ke kamar, sedangkan Vera melangkahkan kaki berdampingan dengannya.
"Kalian tidur terlebih dulu ya, soalnya Bunda harus menemui pemilik rumah ini," kata Clarissa sembari membantu kedua anaknya merebahkan tubuh di atas tempat tidur.
"Iya, Bunda." Vera menjawab singkat.
"Cantika mau mendengarkan dongeng dari Bunda," rengeknya.
"Sudah, Dik. Biar Kak Vera saja ya, membacakan dongeng untukmu." Vera berusaha untuk menenangkan hati adiknya.
Beruntung anak pertama Clarissa memahami situasi dan kondisi, juga bisa menghandle adiknya dengan baik. Jadi, Cantika menurut serta membiarkan ibu tersayangnya pergi.
Clarissa berjalan dengan terburu-buru hingga tidak sengaja menabrak Farida. Dia segera meminta maaf pada kepala pelayan di rumah mewah itu.
"Lain kali kalau jalan hati-hati, jangan jelalatan!" hardik Farida masih menyimpan perasaan kesal pada wanita yang dianggap sebagai saingannya.
"Iya." Clarissa tidak mau memperpanjang urusan, jadi berlalu pergi begitu saja.
"Tunggu!" seru Farida tidak terima di perlakukan seperti itu.
Clarissa terus melangkahkan kaki tanpa menghiraukan kepala pelayan yang sedang kesal. Bahkan mampu membuat wajah wanita yang menyukai majikannya memerah.
"Awas saja kamu! Tidak akan aku biarkan kamu bahagia berada di sini!" gerutunya kesal. Dia mulai kepanasan dan melampiaskan kekesalannya kepada pelayan lainnya.
Di ruang tengah yang tertutup, Adrian sedang menunggu Clarissa datang. Dia sudah memiliki sebuah rencana yang diyakini pasti wanita yang sudah dibantunya akan menyetujui semua rencananya.
Pintu ruang tengah terbuka pelan, Adrian sendiri menyadari siapa yang datang.
"Silakan duduk!" pintanya saat melihat Clarissa melangkahkan kaki ke arahnya.
"Baik, Tuan." Clarissa duduk dengan kepala yang masih tertunduk.
Tanpa banyak bicara, Adrian langsung memberikan sebuah kertas yang sudah berisi tentang sebuah kesepakatan yang harus di tanda tangani oleh Clarissa. Wanita itu pun mengernyitkan dahi sembari melihat tajam ke arah pria yang saat ini sedang duduk di hadapannya.
"Kamu bisa baca sendiri kertas itu 'kan?" kata Adrian tanpa menjelaskan apa pun.
Perlahan Clarissa mengambil kertas yang ada di atas meja, lalu membacanya dengan seksama.
"Perjanjian nikah kontrak." Clarissa membaca pelan.
"Maksudnya apa, Tuan?" tanya Clarissa bingung.
"Kamu tinggal baca saja semuanya, kalau kamu setuju ... kamu hanya perlu tanda tangan saja." Adrian memberikan senyuman miring.
Clarissa membaca semua isi perjanjian tersebut, hingga membuat wanita itu melongo.
"Bagaimana? Apakah kamu setuju?"