Tanpa pikir panjang, Clarissa mengikuti saran dari pemilik mobil tersebut. Dia berpikir, dari pada harus kejar-kejaran terus. Lebih baik dia ikut dengan orang asing yang ingin membantunya dengan tulus.
"Terima kasih sudah membantuku," kata Clarissa tanpa melihat jelas wajah orang yang sudah membantunya. Orang itu memakai kacamata berwarna hitam dan fokus menyetir mobilnya.
"Sama-sama. Sekarang kamu mau pergi ke mana?" tanya orang asing tersebut.
"Turunin saja aku di depan sana," sahut Clarissa ketika melihat ke belakang mertuanya sudah tidak mengikutinya lagi.
Mobil berhenti tepat di tempat yang ditunjuk oleh Clarissa. Dengan cepat wanita itu keluar dari mobil bersama kedua anaknya. Dia tidak lupa mengucapkan terima kasih untuk yang terakhir kalinya.
"Kita akan pergi ke mana, Bunda?" tanya Vera kesal karena harus mencari tempat baru lagi.
"Kita akan pulang ke rumah nenek Siska, hanya mereka yang bisa menerima kita untuk saat ini," kata Clarissa ketika kebingungan. Dia tidak memiliki uang yang cukup untuk tinggal di rumah kontrakan.
"Tapi aku takut, Bunda. Nenek akan memarahi Bunda lagi," ujar Vera lirih.
"Gapapa, Vera. Soal nenek yang akan memarahi Bunda, itu semua menjadi urusan Bunda. Yang penting kalian punya tempat tinggal dan tidak luntang-lantung di jalan seperti ini," ucap Clarissa melihat Cantika yang kelelahan serta wajahnya mulai mengantuk.
Mereka bertiga berjalan kaki menuju ke arah rumah Siska yang memiliki jarak kurang lebih enam kilometer.
"Kenapa kita tidak naik ojek atau angkot saja, Bunda? Kenapa harus jalan kaki?" tanya Vera sudah merasa tidak kuat melangkahkan kaki.
"Maafin Bunda karena tidak memiliki uang sepeserpun, jadi kalian harus menderita seperti ini." Clarissa hanya bisa meminta maaf atas semua yang terjadi.
"Bunda gak usah khawatir, Vera punya tabungan yang bisa digunakan untuk membayar angkot," kata Vera lirih.
Sebenarnya Clarissa tidak nyaman harus mengambil uang tabungan anaknya, tapi mereka tidak memiliki pilihan lain. Mereka menunggu angkot, tapi tidak kunjung datang juga. Hingga hari akan semakin gelap, beruntung mobil yang membantunya tadi kembali dan meminta mereka semua masuk.
"Kalian bisa tinggal di rumahku untuk sementara waktu," kata pemilik mobil tersebut.
Clarissa awalnya ingin menolak, tapi melihat kedua anaknya kelelahan. Wanita itu tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti pria itu. Lagi pula, jika dia pergi ke rumah Siska. Belum tentu juga diterima dengan baik sesuai prasangkanya, mengingat wanita itu telah membantah nasihat orang tua demi menikah dengan suami tidak tahu diri itu.
"Tunggu apalagi? Ayo!" ajak pemilik mobil yang masih menunggu jawaban.
Suaranya berhasil membuat lamunan Clarissa buyar begitu saja. Wanita itu pun membantu kedua anaknya untuk masuk ke dalam mobil. Tanpa banyak basa-basi, mobil melaju dengan cepat hingga sampai ke mansion yang megah serta mewah.
"Kalian bisa tinggal di rumah ini, anggap saja rumah sendiri." Pria itu meminta Clarissa dan kedua anaknya untuk masuk.
Baik Clarissa dan kedua anaknya merasa kagum melihat mansion yang ada di hadapannya saat ini. Mereka tidak pernah menyangka akan tinggal di tempat yang mewah tersebut. Berbeda jauh dengan tempat tinggal sebelumnya.
Perlahan tapi pasti, Clarissa, Vera dan pria pemilik mansion itu masuk ke dalam. Sedangkan Cantika masih setia digendong oleh bundanya.
"Kira-kira berapa bayar uang sewanya ya, Bunda?" tanya Vera berbisik.
"Bunda tidak tahu juga, terpenting kita harus memiliki tempat tinggal terlebih dulu. Soal bayar sewa, kita pikirkan lagi nanti." Clarissa membalas dengan bisikan.
"Kalian bisa tinggal di kamar sebelah sini," kata pria yang memakai jas warna abu-abu.
"Terima kasih, Tuan." Clarissa berbicara penuh lemah lembut.
Clarissa masuk bersama Vera dan Cantika ke kamar yang ditunjukkan oleh pria tersebut.
"Rumah ini bagaikan istana, Bunda. Bahkan, ukuran kamar ini saja sama dengan ukuran ruang tamu di rumah Ayah," ujar Vera mengagumi mansion yang indah itu.
Wanita itu tidak bisa berkata apa pun, hanya bisa melongo tidak percaya. "Mimpi apa aku semalam, hingga bisa berada di rumah mewah seperti ini," ucapnya pelan.
"Kita nikmati saja berada di rumah ini, Bunda." Vera terlihat begitu senang.
Wanita itu baru sadar, bahwa dirinya belum berkenalan dengan pria yang sudah membantunya tadi. Bahkan, Vera juga baru menyadarinya.
"Apa kita cari dia dulu, Bunda. Biar kita tahu siapa namanya?" tanya Vera sebelum keluar dari kamar.
"Gak usah, lagi pula Bunda heran. Rumah sebesar ini gak mungkin dia tinggal seorang diri. Iya 'kan?" Clarissa mulai bertanya-tanya.
Tepat di waktu itu juga, ada seorang wanita asing masuk ke kamar dengan mengenakan seragam berwarna navy. Tampilannya rapi dengan makeup tipis. Bisa dipastikan, wanita itu adalah pelayan di rumah ini.
"Perkenalkan, namaku Farida. Salah satu pelayan senior diantara lima pelayan lainnya. Tuan Adrian memintaku ke kamar ini untuk melayani kalian," kata pelayan berkulit putih itu.
'Oh, jadi namanya Adrian,' gumamnya.
"Kita gak perlu apa pun kok. Terima kasih," sahut Clarissa gugup.
"Kalau begitu, kalian bisa ikut dengan saya berkeliling mansion," katanya lemah lembut.
Wanita dengan dua anak itu tidak banyak berbicara lagi, melainkan mengikuti setiap langkah kaki Farida. Ternyata alasan mansion itu sepi ketika Clarissa datang adalah, semua pelayan lagi bersantai di taman belakang. Jadi, tidak tahu kalau majikannya datang. Lagi pula, tidak biasanya Adrian pulang cepat. Mengingat pekerjaan di kantor yang selalu padat.
"Mansion ini memang hanya Tuan muda sendiri yang menempati. Sedangkan kedua orang tuanya tinggal di mansion lain. Alasan dia pergi dan tinggal sendiri karena ingin hidup mandiri." Farida menjelaskan mengenai biografi Adrian.
Clarissa dan Vera hanya manggut-manggut saja tanpa ada obrolan lagi.
"Saya harap, selama kalian berada di mansion ini. Jaga sikap kalian baik-baik terlebih pada Tuan Adrian. Sekalipun kalian tamu kehormatan baginya, kalian harus tahu diri," ketus Farida yang ternyata ada perasaan tidak suka terhadap Clarissa.
Selain karena cantik, Farida tidak ingin hati Adrian diambil alih orang lain. Meskipun sampai detik ini, pelayan itu belum berhasil meluluhkan hati pria yang menjadi majikannya itu.
"Apa kamu paham!" hardik Farida karena Clarissa hanya diam saja.
"Iya, paham." Clarissa menjawab singkat.
"Sebagai tanda terima kasih pada Tuan karena kamu sudah diberikan tempat tinggal, kamu harus membantu pekerjaan rumah yang ada di sini," ujar Farida sembari memainkan bibirnya.
"Baik, apa yang bisa aku lakukan?" tanya Clarissa antusias. Wanita itu juga tidak mungkin mendapatkan semuanya dengan cuma-cuma.
"Kamu hanya perlu membantu Raya di bagian dapur. Memasak makanan untuk Tuan Adrian." Farida langsung memberikan perintah.
"Selain itu, ada hal yang harus kamu pelajari juga selama ada di rumah ini." Farida melanjutkan perkataannya.
"Baik, tapi aku boleh mengajukan permohonan terlebih dulu? Hanya aku saja yang menjadi pelayan, biarkan anak tertuaku menjaga anak bungsu." Clarissa tidak mungkin membiarkan Vera ikut andil untuk urusan ini.
"Gak bisa, kalian semua harus ikut andil." Farida tidak mau bernegosiasi.
"Lagi pula, kita hanya sampai besok saja di rumah ini," jelas Clarissa.
"Aku juga tidak peduli." Keputusan Farida sudah tidak bisa diganggu gugat.