Clarissa tidak akan menyerah begitu saja jika itu menyangkut anaknya. Dia terus berteriak memanggil nama Vera dan Cantika.
"Cepat kembalikan anak-anakku, Bu!" pekik Clarissa dengan lantang.
"Kamu pergi saja dari rumah ini secepatnya, tanpa membawa mereka." Dania berbicara dengan sorot mata yang tajam.
Wanita cantik itu tidak peduli dengan semua omongan mertuanya. Yang terpenting saat ini, kedua anaknya harus ditemukan dan bisa dibawa pergi bersamanya. Dia tidak rela kalau putri yang disayangi harus tinggal di rumah yang seperti neraka.
"Gak usah repot-repot mencari mereka, Clarissa! Lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga!" hardik Dania sembari mendorong tubuh Clarissa hingga jatuh tersungkur di lantai.
Wanita tangguh itu tidak akan diam begitu saja, dia mulai berdiri lagi untuk mencari Vera dan Cantika di kamar mereka masing-masing. Siapa tahu saja dia sebelumnya tidak teliti mencarinya.
"Sudah kubilang, mereka tidak ada di rumah ini. Mau cari sampai besok pun, kamu tidak akan menemukan mereka!" pekik Dania merasa puas melihat wajah Clarissa mulai kusut.
Koper yang berisi barang-barang pun dilemparkan begitu saja oleh ibu mertua yang tidak memiliki hati itu. Dia juga menyeret Clarissa keluar dari rumah tersebut dengan sekuat tenaga yang dia miliki.
"Pergi kamu dari rumah ini, dan jangan pernah kembali lagi!" usir Dania dengan suara lantang.
"Aku tidak akan pernah pergi dari rumah ini tanpa Vera dan Cantika!" Clarissa tetap pada pendiriannya.
"Terserah kamu saja, yang jelas ... tidak akan pernah aku biarkan kamu bertemu mereka berdua. Jika mereka menanyakan tentangmu, akan aku katakan kalau kamu sudah tiada," ujar Dania tegas. Kemudian wanita itu menutup pintu secara kasar.
Clarissa menangis tersedu-sedu, tidak tahu harus bagaimana lagi agar kedua anaknya bisa diambil dari mertua yang jahat.
"Aku tidak boleh lemah begini, aku harus mencari cara agar bisa masuk lagi ke rumah j*****m ini." Clarissa bermonolog sembari memutar otaknya. Bagaimanapun, dia harus pergi dari rumah suaminya sekaligus rumah mertuanya dengan membawa kedua anaknya. Dia pun berusaha untuk masuk kembali ke rumah tersebut lewat pintu belakang, sebab Clarissa yakin kalau kedua anaknya pasti disembunyikan di dalam rumah. Ternyata keberuntungan masih berpihak padanya, kedua putrinya sedang bermain di halaman belakang berdua saja.
"Bunda!" panggil Cantika setengah berteriak.
Clarissa meminta anak kecil itu untuk diam. "Kalian berdua harus ikut Bunda pergi dari rumah ini secepatnya." Clarissa berbicara tanpa basa-basi.
"Kenapa kita harus pergi dari rumah ini, Bunda?" tanya Vera menuntut penjelasan.
"Iya, Sayang. Soalnya Bunda sudah tidak bisa bersama keluarga toxic ini lagi. Nanti Bunda akan ceritakan semuanya, yang terpenting kita harus pergi terlebih dulu dari rumah ini sebelum ketahuan," kata Clarissa tidak mau membuang-buang waktu.
"Kita pamit dulu sama kakek dan nenek ya, Bunda." Vera yang terlihat masih polos malah mau berpamitan.
"Gak usah, Vera. Bunda sudah pamit terlebih dulu tadi, barang-barang kita sudah ada di teras depan rumah. Lebih baik kita ke sana sekarang juga," ujar Clarissa menarik paksa tangan kedua putrinya.
Vera dan Cantika tidak mungkin menolak ajakan Clarissa, sebab mereka begitu sayang pada wanita yang telah melahirkan mereka.
"Pelan-pelan ya, jangan berisik," kata Clarissa pelan.
"Iya, Bunda." Hanya itu yang dikatakan Vera dan Cantika. Sesampainya di teras depan rumah, Clarissa meminta bantuan pada putri pertamanya untuk membawakan tas ransel yang berisikan barang-barang kedua putrinya. Tanpa bertanya tujuan mereka ke mana, Vera pun membantu sang Ibunda tercinta.
"Mau ke mana kalian!" teriak Dania keluar dari rumah itu.
"Ayo, kita pergi sekarang juga!" ajak Clarissa membawa Cantika dan Vera pergi.
"Kenapa kita harus kabur dari nenek sih, Bun?" Vera bertanya karena penasaran.
"Sudah, kita pergi saja dulu. Nanti Bunda jelaskan," sahut Clarissa singkat.
"Bunda, Cantika capek," keluh Cantika dengan napas tersengal-sengal.
Clarissa langsung menggendong putrinya yang berumur tiga tahun tersebut.
"Kita akan pergi ke mana, Bunda?" tanya Vera sembari melihat ke belakang. Ternyata Dania masih terus mengejar mereka.
"Bunda juga tidak tahu, Vera. Yang terpenting kita harus pergi dulu sebelum nenek menangkap kita." Clarissa tidak bisa berbicara banyak, sebab dirinya juga sudah capek berlari.
"Kita istirahat dulu, Bunda. Vera sudah capek," rengek Vera. Keringatnya mulai bercucuran karena matahari yang terik.
Clarissa merasa kasihan kepada kedua anaknya, dia ingin membawa mereka berdua naik ojek atau kendaraan apa pun yang lewat, tapi wanita cantik itu tidak memiliki uang. Nafkah yang diberikan Raka selama ini memang cuma cukup untuk beli bahan makanan di dapur, jadi dia tidak memegang uang lebih. Jadi terpaksa mereka harus berlari dari Dania yang terus mengejar mereka bertiga.
"Kita sembunyi dulu di sana," kata Clarissa menunjuk ke arah kerumunan orang yang sedang melakukan transaksi jual beli pakan ikan.
Clarissa tidak yakin akan aman, jadi meminta kedua anaknya untuk bersembunyi di balik tembok yang ada di sekitar.
"Kalian duduk dulu di sini, biarkan Bunda melihat situasi dan kondisi," kata Clarissa sembari melihat dari bilik tembok. Terlihat Dania sedang kebingungan mencari menantu dan juga kedua cucunya.
"Pergi ke mana kamu menantu kurang ajar! Tidak akan kubiarkan kamu pergi begitu saja!" pekik Dania sembari melihat ke sekeliling. Memang umurnya sudah tidak muda lagi, tapi kalau perihal berlari. Dia masih kuat dan masih seperti ibu-ibu muda.
"Ini semua gara-gara suamiku yang ceroboh! Diminta untuk membawa anak-anak saja gak becus! Padahal, kalau dia bisa menyembunyikan Vera dan Cantika dengan baik, mana mungkin dia akan dibawa kabur oleh ibunya yang tidak tahu diri itu!" Dania bermonolog kesal. "Kenapa juga aku harus memiliki suami sepertinya!" imbuhnya sembari menghela napas panjang.
Tanpa diketahui Dania, ternyata sang Suami yang bernama Bachdim telah mengikuti dari belakang dengan mengendarai mobilnya. Pria itu turun dan menghampiri sang Istri yang terlihat kebingungan.
"Bagaimana, Bu? Apakah menantu dan cucu kita berhasil ditangkap?" tanya Bachdim pelan.
"Apa Bapak tidak melihat, hah! Kalau mereka sudah berhasil ditangkap, mana mungkin Ibu berdiri sendirian?" cecar Dania penuh amarah.
"Ya, namanya Bapak cuma bertanya, Bu. Itu Bapak sudah bawakan mobil, jadi kita bisa mencari menantu dan cucu kita dengan mengendarai mobil. Itu artinya, Ibu tidak usah capek-capek berlari lagi," ujar Bachdim memasang wajah polos.
"Sudah telat, Pak! Ibu saja kehilangan jejak mereka. Bagaimana bisa menemukan atau mengejar mereka lagi!" cetus Dania semakin meradang dengan sikap suaminya.
Clarissa mengambil kesempatan emas yang terlihat di depan matanya. Dia berusaha kabur di saat mertuanya sedang asik berdebat dan lengah.
"Kalian berdua sudah istirahatnya 'kan?" tanya Clarissa pada kedua putrinya.
Cantika dan Vera mengangguk, meskipun mereka berdua masih capek.
"Ya sudah, kita pergi sekarang juga dari sini." Clarissa mengajak kedua anaknya untuk berlari lagi. Namun sayangnya, keberadaan mereka diketahui oleh Dania dan Bachdim. Jadi, mereka kembali berlari. Setelah hampir ketangkap, sebuah mobil melaju tepat di samping Clarissa dan kedua putrinya. Pemilik mobil itu pun meminta mereka untuk naik dan ikut bersamanya.