Clarissa tidak menyangka kalau suaminya akan berpaling dan menghianati cinta tulusnya yang selama ini dia berikan. Hatinya seakan hancur berkeping-keping saat mengetahui kalau sang Suami telah bersama wanita lain di hotel.
Wanita cantik itu melabrak Raka ketika sedang b******u mesra dengan wanita selingkuhannya. Sosok wanita yang memiliki tubuh seksi dengan bibir ranum dan berkulit putih.
"Kenapa kamu tega melakukan semua ini padaku, Mas? Apa salahku?" cecar Clarissa dengan wajah dikuatkan. Meskipun netranya mulai berkaca-kaca, tapi wanita itu tidak ingin terlihat lemah di hadapan suaminya, Raka.
"Kenapa kamu ada di sini, Clarissa?" Bukannya menjawab, pria itu justru balik bertanya. Wajahnya terlihat tegang dan segera mencari pakaian yang telah dilempar jauh dari sisi ranjang.
"Kamu gak usah bertanya tentangku, katakan saja! Apa yang membuatmu akhirnya berpaling dariku? Kenapa kamu tega melakukan semua ini, Mas?" cecar Clarissa menuntut penjelasan, tapi sama sekali suaminya tidak bergeming. Dia bingung harus memberikan penjelasan apa ketika tertangkap basah seperti ini. Pikirannya ngeblank, juga ketakutan. Clarissa menelan saliva, lalu melanjutkan perkataannya.
"Oya, aku lupa satu hal. Memang dari awal aku tidak pernah diharapkan oleh keluargamu. Jadi, bisa saja kamu selama ini tidak pernah menginginkanku. Cintamu hanya pura-pura untuk mengelabuhi ku 'kan, Mas? Dasar pria tidak tahu diri!" cetus Clarissa penuh dengan amarah. Dia mulai mengamuk, melempar apa pun barang yang ada di dalam kamar hotel tersebut. Mulai dari remote pendingin ruangan, vas bunga, remote televisi dan semua benda yang bisa dijangkau olehnya, tapi tetap saja tidak terkena wajah Raka. Pria itu bisa menghindar dari serangan ganas istrinya. Justru wanita selingkuhannya yang saat ini bersama malah ikut mengeluarkan suaranya.
"Kamu gak usah membuat kekacauan di tempat ini!" hardik wanita seksi bernama Caca. Wanita itu hanya mengenakan pakaian seksi yang tembus pandang. Tanpa malu menampakkan lekuk tubuhnya di hadapan Clarissa.
"Kamu gak usah ikut campur w************n! Ini urusanku dengan suamiku!" Clarissa balas menghardik. Tidak mungkin seorang Clarissa diam saja jika ada yang menghardiknya, terlebih orang itu perusak rumah tangganya.
Wanita cantik tersebut tak hanya mengamuk suaminya, tapi juga Caca yang semakin menyebalkan. Bagaimanapun juga, dua orang yang sudah berlaku khianat harus mendapatkan balasannya.
"Dari pada kamu membuat onar, lebih baik kamu pergi dari sini sekarang juga!" usir Raka tanpa ampun. Pria itu sudah tidak peduli lagi dengan Clarissa, dia berpikir mungkin sudah saatnya hubungan mereka kandas.
"Kalau kamu tetap di sini, aku tidak akan segan-segan menyeretmu keluar dari kamar ini!" imbuh Caca tidak kalah emosi. Wajahnya terlihat memerah karena kesal melihat wajah Clarissa.
Raka hanya memakai celana pendek tanpa mengenakan baju, sedangkan wanita bertubuh seksi tersebut rambutnya terlihat indah memukau dengan panjang sebahu.
"Kamu gak usah repot-repot, aku akan pergi dari sini. Najis jika berlama-lama di tempat penuh murka ini. Untukmu, Mas. Aku akan menggugat cerai kamu secepatnya. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi, juga jangan harap kamu bisa bertemu dengan anakmu, kecuali kalau dia menikah nanti!" ancam Clarissa dengan d**a yang terasa begitu sesak. Buliran bening dari netranya sengaja ditahan agar tidak ketahuan oleh Raka dan dianggap sebagai wanita lemah.
Ternyata keputusan mengikuti suaminya seharian ada gunanya juga, hingga perselingkuhan itu terbongkar. Dengan rencana yang sudah matang, Clarissa akhirnya bisa melabrak Raka yang ternyata lupa mengunci kunci kamar hotel.
Wanita itu paham betul dengan sifat suaminya yang pelupa, terlebih jika itu perihal mengunci pintu. Sudah tak jarang dirinya kepergok oleh mertuanya ketika mereka berdua saling b******u mesra karena suaminya yang ceroboh.
Clarissa berjalan gontai, hatinya begitu rapuh dan pikirannya begitu kacau sekarang. Dia duduk lemah lunglai di lantai, tepat di koridor hotel sebelum pintu keluar. Wanita itu juga sudah tidak peduli dengan setiap orang yang sedang lewat dan melihatnya dengan perasaan iba.
Air mata yang sedari tadi ditahan, kini pecah juga hingga sesenggukan. Mungkin dengan begitu hatinya akan tenang dan bisa melupakan sesuatu yang membuat hatinya kesal.
"Aku harus kuat, tidak boleh lemah seperti ini. Aku harus bangkit," ujar Clarissa menyemangati diri sendiri sembari menghapus air mata yang menganak sungai di pipi secara kasar.
Dia mulai berdiri dengan tumpuan kaki yang semakin melemah. Berjalan menuju pintu keluar untuk segera pergi dari hotel tersebut.
"Aku harus segera keluar dari neraka itu, agar aku bisa hidup lebih bahagia." Clarissa bergumam.
Wanita itu lantas segera pergi untuk menjemput ke dua anaknya di rumah mertuanya. Dia tidak sudi tinggal lama-lama bersama Raka di rumah orang tua pria itu.
Taksi yang sedari tadi mengantarkan Clarissa masih ada, hingga wanita itu dengan gampang segera pergi ke rumah mertuanya.
Laju mobil taksi dipercepat atas permintaan Clarissa. Dia sudah tidak sabar ingin segera sampai dan mengemasi seluruh barang-barang yang dimilikinya.
Sesampainya, Clarissa memberikan uang pada supir taksi dan segera melangkahkan kakinya masuk ke rumah mertuanya.
"Vera! Cantika!" panggil Clarissa sedikit berteriak.
Kedua putrinya yang cantik tidak terlihat, bahkan tidak ada satu pun yang menjawab panggilan Clarissa.
Wanita cantik yang mengenakan pakaian warna navy pun mencari di setiap sudut rumah, terutama di tempat favorit mereka bersantai yang tak lain di ruang tengah. Namun, kedua anaknya belum juga ditemukan.
"Vera! Cantika! Kalian di mana?" teriak Clarissa, tapi tetap tidak ada jawaban.
Clarissa memutuskan untuk mengemasi barang-barang terlebih dulu, setelah itu akan mencari kedua anaknya kembali.
Seluruh pakaiannya dimasukkan ke dalam koper, juga pakaian milik kedua anaknya. Selanjutnya, dia kembali mencari Vera dan Cantika yang saat ini entah ada di mana.
"Kamu cari siapa? Vera dan Cantika?" Sebuah suara yang tidak asing terdengar di telinga.
Clarissa menoleh ke sumber suara yang ternyata ibu mertuanya.
"Di mana Vera dan Cantika, Bu?" tanya Clarissa ketika melihat Dania sedang berdiri tepat di belakangnya.
"Jangan harap kamu bisa membawa Vera dan Cantika keluar dari rumah ini. Sekalipun kamu dan Raka akan bercerai nanti," kata Dania sinis.
"Dari mana Ibu tahu tentang hal itu? Pasti mas Raka yang memberitahu Ibu, ya?" cecar Clarissa tidak habis pikir Raka secepat itu menceritakan segalanya pada ibunya.
"Bukan hal yang penting aku tahu dari siapa, yang jelas Vera dan Cantika akan tetap tinggal di rumah ini!" pekik Dania ketus.
"Gak bisa begitu, Bu. Vera dan Cantika anakku, bagaimana mungkin mereka tetap tinggal di rumah ini sedangkan aku harus pergi," jelas Clarissa.
"Kamu kira Vera dan Cantika bukan anak dari putraku juga? Sebagai seorang nenek aku berhak juga atas cucu-cucuku!" kata Dania dengan tegas.
"Mau kamu cari mereka di seluruh rumah ini, kamu tidak akan menemukannya karena aku sudah menyembunyikan mereka!" imbuh Dania tersenyum lebar.