Seusai sholat subuh, Clarissa berdo'a agar jualannya laris hari ini agar bisa menghidupi kedua putri yang disayangi.
Selanjutnya, dia bergegas ke dapur untuk menyiapkan bahan makanan yang ingin dimasak pagi ini.
"Menu kita hari ini apa, Bunda?" tanya Vera antusias.
"Oseng-oseng tempe dan tahu bagaimana?" Clarissa meminta pendapat putrinya.
"Boleh juga, Bunda. Sekarang, apa yang bisa Vera bantu?" tanya Vera bersiap untuk membantu sang Bunda.
"Kamu siap-siap sekolah saja, Vera. Urusan dapur biar Bunda yang menyiapkan." Clarissa tidak ingin membebani sang anak dengan memasak juga.
Vera menurut untuk tidak membantu masak, tapi dia justru menyapu rumah dan membereskan teras untuk ditempati jualan oleh sang Bunda. Setelah semua selesai, barulah ia membersihkan diri dan mengenakan seragam sekolahnya.
Nasi sudah matang karena memang Clarissa memasaknya sebelum subuh. Jadi, saat ini wanita cantik itu sibuk membungkus nasi serta lauknya untuk dibawa ke sekolah oleh Vera.
"Nasi bungkusnya ada berapa banyak, Bun?" tanya Vera saat melihat Clarissa memasukkan nasi bungkus versi nasi kucing ke dalam tas kain besar.
"Bunda sediakan tiga puluh, Vera. Bunda tambahin sepuluh saja dari penjualan kemarin." Clarissa berbicara sembari memasukkan beberapa nasi bungkus lagi.
"Vera minta dua puluh bungkus lagi masih bisa gak Bun?" tanya Vera setelah merengreng lagi teman-teman yang memesan lewat ponsel.
"Yakin habis sebanyak itu?" tanya Clarissa ragu.
"Iya, Bun. Soalnya teman-temanku pada pesan lewat pesan." Vera menunjukkan pesan yang dikirim teman-temannya.
Clarissa senang karena banyak yang menyukai masakannya. "Kalau gitu Bunda bungkusi dulu ya."
Wanita cantik itu pun mulai membungkus lagi dua puluh, lalu memberikan kepada sang anak. Setelah itu mereka sarapan bersama, lalu Vera pamit untuk berangkat ke sekolah karena jam sudah menunjukkan pukul 06.30 wib.
Lain hal dengan Clarissa yang harus siap-siap menaruh nasi dan jualannya hari ini di depan teras rumah. Hatinya mulai berdegup kencang, berharap jualan kali ini laris.
"Kenapa tidak ada yang datang atau lewat ya?" pikir Clarissa saat jalan kecil di halaman rumahnya sepi.
Dia mulai berpikir negatif, terlebih setelah satu jam berlalu masih belum ada yang datang menghampirinya. Dia pun bersiap untuk memasukkan lagi jualannya, tapi ternyata Tina datang untuk membeli nasi yang dijualnya.
"Harga berapa nasinya, Bu?" tanya Tina dengan wajah yang ramah.
"Lima ribuan saja, Bu. Mau beli berapa, Bu?" tanya Clarissa membalas sikap ramah pembelinya.
"Saya pesan dua puluh bungkus ya," sahut Tinga mengambil tempat duduk yang sudah disediakan Clarissa.
"Tapi untuk lauknya cuma oseng-oseng tempe saja, Bu." Sebelum membungkuskan makanan, Clarissa terlebih dulu memastikan kalau pelanggannya tidak akan kecewa.
"Iya, gapapa. Pesan dua puluh bungkus ya." Ternyata Tina tetap mau memesan nasi bungkus sebanyak itu. Clarissa langsung membungkus nasi sebanyak yang diminta oleh pelanggan pertama sekaligus penglaris hari ini. Kalau pesannya sebanyak itu, berati sebentar lagi warungnya akan tutup karena wanita cantik itu tidak menyediakan nasi bungkus terlalu banyak.
"Mau ada acara, Bu?" tanya Clarissa memecah keheningan.
"Enggak, Bu. Mau saya bagi-bagikan saja," sahut Tina tetap ramah.
Clarissa menganggukkan kepala secara perlahan, baru kali ini dia bertemu dengan keluarga dermawan.
"Oya, saya kok baru lihat Ibu ya? Apakah memang masih baru di lingkungan sekitar sini?" tanya Tina agar menghilangkan rasa penasarannya.
"Iya, Bu. Saya baru tiga hari ngontrak di sini," sahut Clarissa sembari tersenyum.
"Hmmm ... salam kenal ya, Bu. Tina," ujar Tina memperkenalkan diri.
"Salam kenal juga, Clarissa." Wanita cantik itu membalas senyuman.
Dengan cepat, nasi bungkus dua puluh biji sudah selesai disiapkan. Clarissa memberikannya kepada Tina, dan wanita yang merupakan tetangga sebelah kanan dari rumah wanita cantik itu memberikan uangnya.
"Kalau ada waktu, main-main ke rumah, Bu. Lawong cuma dekat kok, selisih lima rumah saja." Tina memang ramah dan baik sama tetangganya.
"InsyaAllah kapan-kapan, Bu." Clarissa tidak mungkin berjanji, selain karena mereka baru kenal dan bertemu. Dia juga merasa tidak akan memiliki waktu yang cukup untuk bermain ke rumah Tina.
"Aku tunggu loh," ujar Tina menyeringai.
Kemudian wanita cantik berambut panjang pun pulang ke rumah setelah mendapatkan nasi bungkus yang dibelinya. Sedangkan Clarissa membereskan teras karena jualannya sudah habis, tinggal menghitung hasil pendapatan hari ini. Tidak lupa wanita itu bersyukur karena sudah dilancarkan usahanya hari ini.
Di saat Clarissa menulis modal, hasil penjualan ke dalam buku. Cantika justru bangun serta langsung menghampirinya.
"Bunda lagi apa?" tanya gadis kecil polos itu.
"Lagi mencatat hasil jualan hari ini, Sayang." Clarissa langsung memeluk Cantika.
Buku catatan sengaja digeletakkan begitu saja, lalu wanita cantik itu mengajak putrinya untuk makan. Dia menyuapi sang Anak dengan penuh kasih sayang.
Selesai itu, wanita cantik itu membersihkan putrinya dan mengajak Cantika untuk keluar jalan-jalan. Betapa senangnya gadis kecil itu karena diajak jalan-jalan lagi oleh sang Bunda.
"Kita mau ke mana, Bun?" tanya Cantika setelah memakai pakaian yang bagus.
"Ke mana saja yang kamu mau, soalnya Bunda juga mau belanja," sahut Clarissa sembari menyisir rambut Cantika.
"Bagaimana kalau kita ke rumah Nenek, Bunda? Soalnya Cantika mau ketemu sama Ayah dan juga Nenek." Wajah Cantika memelas.
"Lain kali saja ya. Sekarang kita beli makanan ringan dan bahan-bahan memasak." Clarissa lagi-lagi menolak permintaan sang anak.
Cantika terlihat sedih, tapi tetap menganggukkan kepala dan menerima keputusan sang Bunda. Setelah semuanya selesai, mereka pun pergi ke pusat perbelanjaan yang ada supermarketnya. Tempatnya lumayan jauh dari rumah kontrakan mereka.
Mereka berdua terlihat bahagia melihat lalu lalang kendaraan yang melintas di jalan raya. Pun Cantika yang gak mau digendong oleh sang Bunda.
"Masih jauh, Bun?" tanya Cantika sembari tersenyum.
"Sebentar lagi sampai," sahut Clarissa singkat. "Mau Bunda gendong saja?" tanyanya pelan.
"Mau jalan kaki saja, Bunda." Cantika masih tampak bersemangat.
Kurang lebih satu jam berlalu, mereka akhirnya sampai. Memang sedikit lama karena sesekali Clarissa mengajak sang anak untuk beristirahat sebentar. Kali ini wanita cantik itu meminta sang anak membeli apa pun yang diinginkan. Namun, Cantika justru hanya meminta satu permen lolipop saja.
"Gak mau yang lain lagi?" tanya Clarissa.
Cantika menggelengkan kepala. "Ini saja sudah cukup, Bun."
"Ya sudah, kita keliling dulu ya. Bunda mau membeli camilan." Cantika langsung mengikuti sang Bunda dari belakang. Akan tetapi, semenit kemudian. Clarissa menyadari bahwa putrinya tidak ditemukan di sampingnya.
Dengan panik wanita cantik itu pun mencari ke sana ke mari keberadaan Cantika, tapi tidak ditemukan juga.
"Cantika! Kamu di mana?" tanya sembari berkeliling di pusat perbelanjaan tersebut, tepat di supermarketnya.
Setelah berkeliling, akhirnya Clarissa menemukan Cantika yang sedang berdiri berhadapan dengan mantan suaminya, Raka.