Pak Kavindra datang tepat sebelum makan malam dimulai. Di tangannya ada buket bunga lili putih dan paper bag kecil berlabel salah satu brand perhiasan ternama.
Suasana meja yang tadinya ramai oleh obrolan mendadak senyap. Terlebih saat dia mendekati istri Om Hartono, Tante Titiek, lalu menyerahkan apa yang dibawanya dengan ekspresi gugup sekaligus tegang.
“Selamat ulang tahun, Ma. Semoga Mama panjang umur, sehat selalu, dan selalu dalam lindungan Tuhan. Maaf kalau saya terlambat, tadi jalanan macet,” ucapnya.
Namun Tante Titiek tidak menoleh, apalagi merespons. Dia hanya meraih gelas dan meneguk isinya. Gerak-geriknya santai, seolah tidak melihat ataupun mendengar Pak Kavindra. Matanya justru bergantian menatap suaminya dan putri bungsunya.
“Kalau saja Ganda dan Dirga ada, pasti makan