Selesai yoga, aku meneguk air putih dari tumbler sambil mengecek pesan yang baru masuk di ponsel. Di sebelahku, Aluna sibuk berfoto—entah pose ke berapa—mungkin untuk dikirim ke pacarnya atau sekadar jadi stok galeri.
Notifikasi dari Pak Kavindra muncul di layar.
Pak Kavindra: [Siang nanti mau ketemuan? Saya ada beberapa rekomendasi tempat untuk kita datangi. Teater Garasi, Museum Sonobudoyo, Monolog Coffee. Pilih salah satu. Jangan menolak, ya. Ingat, kita lagi pen-de-ka-tan.]
Ibu jariku menggantung di udara, siap membalas, tapi aku menahan diri sejenak untuk memikirkan jawaban yang tepat. Sudut bibirku berkedut tipis melihat tulisan yang ditebalkannya. Sepertinya dia sudah menduga aku akan menolak, mengingat sebelumnya aku memang sering bersikap defensif. Kata pen-de-ka-tan itu seng