Pagi-pagi sekali, saat aku sibuk memanggang roti di dapur, Aluna datang sambil membawa tumbler kosongnya. Dia langsung menuju kitchen sink, mencucinya sambil menggerutu, “Kakak sok-sokan ngomelin aku soal jangan bawa cowok ke apartemen. Eh, Kakak sendiri malah bawa.”
Dengan santai kutata roti yang sudah matang ke tiga piring—satu piring berisi dua lembar. Kuoleskan selai Nutella di satu sisi, sementara sisi lainnya kusiapkan untuk irisan pisang tipis-tipis.
“Beda kasus, Dek. Dia bukan pacar Kakak, tapi dosen Kakak. Kebetulan kami cukup dekat.”
“Dekat sampai bisa diajak nginap? Cih! Kakak kira aku anak kemarin sore?”
Aku mendongak, lalu menghela napas. “Terserah Adek mau mikir apa. Tapi intinya tadi malam kondisi Mas Kavindra lagi nggak baik. Kalau dibiarkan sendirian, takut terjadi ses