Dengan wajah memerah, aku segera bangkit dari pangkuan Pak Kavindra. Dia ikut berdeham dan berdiri, seolah sama canggungnya setelah apa yang barusan terjadi.
“Maaf—”
“Saya—”
Ucapan kami terhenti karena keluar bersamaan. Hening sempat menggantung beberapa detik, sebelum tawa Pak Kavindra tiba-tiba memecahnya. Tanpa sadar aku juga ikut tertawa. Entah bagaimana, situasi yang tadi terasa menegangkan mendadak berubah terasa ... konyol.
“Maaf. Silakan bicara duluan,” katanya.
Aku mengangguk, masih menahan malu. “Soal tadi … saya nggak lihat ada kucing di sofa. Nyaris saja saya menyakitinya kalau dia nggak cepat melompat.”
“Tidak apa-apa. Saya juga ceroboh karena tidak menyadarinya. Jadi, mewakili makhluk kecil itu, saya yang minta maaf. Dia pasti membuatmu kaget, ya?”
“Iya,” anggukku. “Ta