Aku langsung melepas sabuk pengaman begitu mobil Pak Kavindra berhenti di drop-off area. Sambil melirik sekilas ke arahnya, aku berkata, “Terima kasih sudah mengantar saya.”
Tanganku sudah bersiap membuka pintu. Namun sebelum benar-benar turun, aku menambahkan basa-basi demi sopan santun, “Bapak mau mampir sebentar ke unit saya?”
“Mau.”
Jawabannya singkat. Cepat. Tanpa ragu.
Aku tertegun. Berkedip sekali, lalu mendadak salah tingkah karena tak menyangka ajakan formal itu benar-benar diterimanya.
“M–maksud saya tadi—”
“Saya butuh segelas air, Aira. Entah kenapa tiba-tiba haus.” Bibirnya melengkung tipis, tangannya sempat mengusap tenggorokan. Tatapannya lurus ke mataku. “Tawaranmu tadi serius, kan? Bukan sekadar basa-basi?”
“T–tentu saja serius. Mana mungkin saya bercanda.”
“Bagus.