“Kak, Kakak ada sesuatu, ya, sama dosen Kakak?”
Pertanyaan Aluna nyaris membuatku menyemburkan jus jeruk yang baru saja kuminum. Cepat-cepat aku menahan bibir dengan punggung tangan, lalu menelan cairan itu tergesa agar tidak berakhir melakukan aksi memalukan.
“Nggak. Nggak ada apa-apa di antara kami,” bantahku sambil menggelengkan kepala, kedua tanganku ikut bergerak seolah menegaskan penolakan.
“Masa? Malam itu aku lihat sendiri, lho. Kakak tiba-tiba pergi sama dia. Kalian menjauh dari keramaian, cuma berdua doang. Kalau bukan ada apa-apa, itu namanya apa?”
“Jangan sok tahu, deh.” Aku mendengkus. “Bisa aja ‘kan kami lagi bahas urusan perkuliahan? Kebetulan aku ketua kelas dan dia dosen. Wajar kalau interaksi kami lebih sering dibanding mahasiswa atau mahasiswi yang lain.”
Aluna meny