Aira Svanika 09: Di Antara Ketertarikan dan Kendali
Selama beberapa saat aku menjadi pusat perhatian karena Pak Kavindra tak kunjung memberi jawaban. Dia terus meneguk birnya sambil menatap lurus ke mataku. Sementara itu, kegelisahanku perlahan merayap naik—terlebih saat perempuan-perempuan di sisi kanan dan kiriku mulai melayangkan tatapan tak senang.
Rasa malu langsung menggelayuti dadaku ketika ajakanku tetap tak ditanggapi. Dengan tangan yang mengepal di sisi tubuh, aku menambahkan dengan suara yang sedikit bergetar, “Kalau Pak Kavindra nggak mau … saya akan pergi. Maaf sudah mengganggu waktunya.”
Aku pun berbalik dan melangkah menjauh. Mataku memejam erat sesaat, kepalaku menggeleng pelan. Tuhan, rasanya aku ingin menenggelamkan diri di kolam sekarang juga. Pasti tadi aku tampak sangat konyol di hadapan mereka semua.
Aku hampir saja