“Kakak udah siap?”
“Bentar lagi, Ma!” seruku sambil memasang anting. Sebelum meninggalkan kaca rias, kusemprot parfum ke area leher dan bagian bawah lengan. Pouch berisi ponsel dan lipstik tak lupa kubawa, lalu aku melangkah keluar kamar.
Di ruang tamu, Papa sudah menunggu. Jas yang dikenakannya senada dengan warna gaunku—navy. Di usia akhir kepala lima, Papa masih terlihat tampan meski rambutnya mulai dipenuhi uban. Dia adalah pria paruh baya terkeren yang pernah kulihat.
“Yuk, Pa.”
Papa tidak langsung bergerak. Beberapa detik dia menatapku dari atas hingga bawah, lalu menghela napas pelan. “Ai-nya Papa sudah dewasa. Di acara nanti, pasti banyak mencuri perhatian kaum pria.”
Mama yang berdiri di sebelahnya tersenyum sambil mengusap lengan Papa lembut. Kepalanya menggeleng samar. “Buk