Banyak yang ingin kuceritakan pada Mama, sampai-sampai tidak hanya sore setelah kedatangannya, malam saat akan tidur pun aku memonopolinya agar mau sekamar denganku.
Dengan memasang tampang memelas seperti anak kecil, aku menatap Mama dan Papa bergantian. Berharap cara ini ampuh membuat mereka luluh.
“Please,” lirihku sambil menangkupkan tangan di d**a. “Satu malam aja. ‘Kan masih ada malam-malam lain buat kalian berdua, sekarang giliran Kakak dulu.”
Mama lalu menatap Papa, dan Papa pun membalas tatapannya. Selama beberapa saat mereka berkomunikasi lewat isyarat mata, sebelum akhirnya Papa mengembuskan napas dan berkata, “Baiklah, baiklah. Papa kalah.” Kedua tangannya terangkat, seolah menyerah. “Mama milik Kakak Ai malam ini, biar Papa sama Adek.”
Aluna yang tadinya acuh sambil memain