Setelah menunjuk salah satu kamar tamu untuk ditempati pacar Aluna, aku langsung menarik tangan adikku begitu kami keluar dari sana. Tarikanku sedikit kuat hingga Aluna meringis.
“Kak, pelan-pelan,” gerutunya saat kami tiba di kamarku.
Mataku melotot sebelum akhirnya melepas pegangan. Dengan tangan bertolak pinggang, aku meluapkan kekesalan sekaligus keterkejutanku.
“Kamu mikir apa sih, Dek? Kakak udah hampir tiga tahun tinggal di sini dan nggak pernah sekalipun bawa teman cowok, selain Papa dan Om Arjuna. Sementara kamu? Dengan entengnya ngajak pacar menginap? Kamu nekat banget!”
“Cuma nginap, Kak. Nggak lebih,” bantahnya cepat. “Kasihan dia nyetir jauh-jauh dari Jakarta cuma buat ketemu aku.”
“Hotel ada di mana-mana!” sahutku. “Dan jangan pakai alasan dia nggak punya uang. Kakak lih