Dua bulan setelah honeymoon, aku kembali bekerja seperti biasa. Arjuna pun demikian. Kami kembali fokus pada tanggung jawab dan tugas masing-masing.
Namun, pagi Senin kali ini terasa berbeda. Satu jam setelah briefing, aku baru saja menyelesaikan laporan kredit bulanan ketika Raditya memanggilku ke ruangannya. Tidak ada ekspresi berlebihan di wajahnya saat kami berhadapan—hanya nada suaranya yang terlampau tenang, tapi entah kenapa membuat dadaku sedikit menegang.
“Ada apa, Pak?” tanyaku setelah duduk di kursi di hadapannya. Punggungku otomatis menegak, kedua tanganku mengepal di atas pangkuan.
“Lo udah tahu alasan dipanggil ke sini, kan? Kami menilai lo siap diproyeksikan ke jabatan berikutnya,” ujar Raditya. “Manajemen mengusulkan nama lo untuk mengikuti pendidikan jabatan.”
“Iya,” a