Bagai sungai yang tenang dilempari batu. Itulah yang kurasakan sejak Aluna Sevira Bumi Dirgantara dititipkan Papa dan Mama untuk kuliah di kampus yang sama dan tinggal di apartemen bersamaku.
Bagaimana tidak, sifat kami yang bertolak belakang jelas menimbulkan banyak perbedaan. Aku menyukai ketenangan—meski bukan introvert atau pendiam—sementara adikku itu gemar bersenang-senang. Dia mudah berbaur dan gampang mendapatkan teman. Hanya saja, saking friendly-nya, dia sampai tak bisa membedakan mana teman yang benar-benar baik dan mana yang hanya berpura-pura.
Bayangkan saja, tiga bulan setelah menjadi mahasiswa baru, suatu malam dia tiba-tiba membuat kegaduhan. Dia meneleponku dengan latar suara musik yang kencang dan berisik. Bicaranya sedikit melantur, meski masih sadar. Dia meminta dijem