Saat ijab kabul, aku sampai menahan napas karena Arjuna sudah mengulang untuk yang ketiga kalinya. Bayangkan—pria yang selama ini selalu tampak tenang, berwibawa, dan penuh percaya diri itu, justru gemetar ketika harus mengucapkan namaku binti almarhum ayahku di hadapan tamu undangan, waliku, saksi, dan penghulu.
Lidahnya mendadak belibet. Dia sempat loading sesaat, terbata-bata, lalu terdiam. Wajahnya terlihat jelas tegang, punggungnya yang biasanya tegak kini kaku, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Daddy-nya akhirnya angkat suara. “Tenangkan diri, Son. Santai saja. Tarik napas dalam-dalam, embuskan perlahan. Ulangi beberapa kali sampai kau merasa tenang.”
Suasana yang seharusnya khidmat sontak berubah sedikit canggung—bahkan lucu. Omku sampai terkekeh pelan sambil menepuk pundak A