Foreplay kami berlangsung cukup lama. Arjuna menjamah tubuhku di sana-sini, meninggalkan banyak tanda di area d**a, perut, hingga paha bagian dalam. Aku bahkan sempat meraih pelepasan satu kali karena permainan lidahnya yang intens—tubuhku sudah cukup basah, cukup siap.
Namun saat penyatuan itu akhirnya terjadi, ketika baru seperempat bagian dirinya masuk, rasa sakit langsung menyergapku. Sumpah. Arjuna terlalu besar untuk intiku yang belum pernah dijamah siapa pun.
“Sayang, kita … istirahat dulu.” Aku menahan perut liatnya dengan kedua tangan. Meski pipiku merona dan napasku terengah, rasa perih itu tak bisa kuabaikan. Aku butuh jeda sebelum kami mencoba lagi. “Apa memang begini … kalau melepas keperawanan?”
Matanya yang menggelap oleh gairah mengerjap, lalu dia menggeleng pelan. Kedua