“Emm, jadi … Mas Juna ngelamar gue pas gue cuti pulang kampung buat datang ke nikahannya Naomi. Dia bawa orang tuanya menemui Bunda, minta izin buat berkomitmen serius sama gue.”
Zalima langsung menghitung hari dengan jari-jarinya. Setelah itu, telapak tangannya menutup mulut secara dramatis. “Enam hari yang lalu—dan lo baru bilang ke gue sekarang?” Dia lalu menoleh ke suaminya dengan ekspresi sedih yang jelas dibuat-buat. “Pa, kayaknya Mama udah nggak penting lagi buat Arumi. Cuma Mama yang nganggep dia keluarga, dia enggak.”
“Lebay lo!” decakku sambil memukul tangannya gemas.
“Lo juga gitu waktu gue sama Kak Praja minta restu! Gue cuma ngebalikin sikap lo, ya!” Matanya memicing tajam menatapku, membuatku langsung merapatkan bibir lalu nyengir lebar—baru ingat betapa menyebalkannya aku