Saat aku menunduk, rambutku yang terurai langsung jatuh membingkai wajah Arjuna. Kami saling menatap dalam remang cahaya yang terhalang oleh helaian rambut itu. Napas kami mulai memburu, saling bersahut-sahutan, terlalu dekat untuk diabaikan.
“Jangan pancing saya, Laras,” ucapnya lirih dengan suara serak. “Berjam-jam saya menahan diri. Berpura-pura jadi pria alim—bahkan saya sendiri heran bisa sejauh itu. Tapi sekali kamu menyerang, saya bisa kehilangan kendali.”
“Kalau begitu,” balasku pelan sambil mengulas senyum miring, “mari kita hilangkan … kendali itu.”
Aku mendekatkan wajahku, lalu menyatukan bibir kami dalam ciuman yang awalnya lembut. Kedua tanganku yang semula bertumpu di dadanya merambat naik, menangkup rahangnya. Bibirku menyesap bibir atas dan bawahnya bergantian, memberi g