Mata Kamila membelalak mendengar ucapan Arjuna. Terlebih saat pria itu melepaskan genggaman tangannya. Napas Kamila tercekat, tubuhnya seolah membeku di tempat.
“Cukup sudah aku jadi pria bodoh,” ucap Arjuna dingin. “Menggantungkan harapan pada seseorang yang tidak benar-benar menginginkanku hanya buang-buang waktu.” Dia mundur selangkah, tawa kecilnya terdengar sumbang. “Sekarang terserah kamu. Aku tidak akan peduli lagi.”
“Juna?”
Bertepatan dengan aku menoleh lewat bahu, Arjuna berbalik mendatangiku. Senyum meneduhkan terulas di wajahnya—senyum seseorang yang akhirnya berhasil mengakhiri cinta butanya. Dia tak ingin lagi dimanfaatkan Kamila. Dan lebih dari itu … dia tampak benar-benar siap memulai sesuatu yang baru denganku.
“Berkas perceraianku sudah masuk pengadilan! Kamu harus ber