Lima tahun berpacaran dengan pria yang casing-nya alim, Mas Adjie hanya pernah memeluk dan menciumku. Katanya, dia ingin menjagaku tetap utuh sampai hari pernikahan. Tapi semua itu ternyata omong kosong. Dia justru meninggalkanku demi perempuan pilihan orang tuanya.
Dan aku? Ditinggalkan begitu saja, menyandang status perawan tua—sekaligus perempuan menyedihkan yang diputus sepihak tepat menjelang hari H-nya.
Sekarang aku tak lagi peduli soal menjaga diri. Semua pria sama saja. Kalau dasarnya berengsek, mau terlihat alim atau terang-terangan b***t, tetap berengsek. Aku akan melakukan apa pun yang kuinginkan. Soal konsekuensi, aku siap menanggungnya. Toh menjadi perempuan baik-baik pun tidak menjamin hidup selalu bahagia. Jadi, lebih baik aku menjalani semuanya sesuai kehendakku sendiri.