Aku tiba di kantor tepat pukul delapan. Setelah absen, aku langsung menuju kubikel, menaruh tas, lalu merapikan meja kerja. Karena masih kenyang, aku belum butuh kopi atau teh. Kegiatanku berlanjut dengan mengambil beberapa berkas, membaca ulang isi proposal kredit, lalu menandai bagian-bagian yang masih terasa kurang jelas untuk nanti dikonfirmasi ke nasabah.
Rekan-rekan kerjaku perlahan mulai berdatangan. Gino, Riri, Delon, lalu Atika. Satu per satu menyapa dengan semangat yang masih menyala—maklum saja, hari masih pagi dan pekerjaan belum benar-benar dimulai.
Saat Atika mendaratkan bokongnya di kursi, suara berisik dari gantungan tas yang saling beradu dengan meja langsung mengalihkan perhatianku dari proposal. Spontan aku menggeleng pelan melihat tas barunya yang terlampau heboh, pen