Bertepatan dengan kepulanganku dari kantor, Mbak Desi—salah satu petugas resepsionis apartemen—memanggilku dan memberi tahu bahwa ada titipan paket untukku. Tentu saja aku bingung, sebab aku merasa tidak memesan apa pun. Kalau dari Bunda atau adikku, pasti mereka sudah memberi kabar lebih dulu. Tapi karena tak ada satu pun pesan atau panggilan masuk, berarti paket itu bukan dari mereka.
Setelah mengucapkan terima kasih, sambil berjalan menuju lift aku memperhatikan kotak berukuran kecil dan ringan itu. Tidak ada nama pengirim, tapi nama penerima tertera jelas: nama lengkapku, bahkan lengkap dengan nomor unit apartemen.
Dari Arjuna, kah? Karena hanya dia yang belakangan sering mengirimiku sesuatu—entah makanan, entah bunga.
Karena tak sabar ingin melihat isinya, aku bergegas keluar saat