Hari Sabtuku kali ini benar-benar sibuk.
Setelah hampir satu jam berkeliling bazar UMKM—menyapa para pemilik usaha, mengobrol ringan tentang bisnis mereka, mencatat siapa yang butuh modal, siapa yang baru mulai, dan siapa yang sudah siap berkembang—aku akhirnya kembali ke stan bank dan duduk di kursi lipat di belakang banner. Aku membuka botol minuman, meneguknya perlahan, lalu mengecek kembali catatan prospek yang sudah kukumpulkan.
Sambil memanfaatkan waktu istirahat, kupilah nama-nama yang terasa menjanjikan, memberi tanda bintang pada dua di antaranya, lalu mengirim pesan singkat sebagai tindak lanjut. Tak terasa sepuluh menit berlalu. Aku pun kembali berdiri, merapikan blazer, lalu menyusuri deretan stan sekali lagi—kali ini dengan langkah yang lebih selektif.
Tepat pukul sepuluh m