Saat dia menyodorkan dua paper bag ke hadapanku, aku langsung mendorongnya dan menggeleng. “Nggak, aku nggak mau terima. Kamu pulang aja,” usirku.
Lalu, karena takut Zalima, Aira, atau Aluna menyusul ke depan, aku sempat menoleh ke belakang sebelum menambahkan dengan suara lebih rendah, “Ada tamu lain di rumah. Jadi sekarang kita nggak bisa ngobrol. Kami juga lagi sarapan.”
“Siapa tamu itu?” Alis Arjuna terangkat tipis. “Dari ekspresimu yang resah dan tidak senang, saya bisa simpulkan dia seorang laki-laki.”
“Hah? Jangan asbun, Juna. Dia bukan laki-laki, kok.”
“Buktikan,” tantang Arjuna dengan sebelah alis terangkat. “Pertemukan kami. Kalau kamu tetap menolak, berarti sekarang kamu membohongi saya.”
Sialan. Berdebat dengan seseorang yang sebentar lagi akan mencalonkan diri jadi wali k