“Hey, Girls.”
Dua bocil favoritku itu langsung mengalihkan pandangan dari buku gambar mereka. Kelopak mata mereka serempak melebar, dan dalam hitungan detik mereka bangkit, berlari menubruk kedua kakiku.
“Tante Rumi!” seru Aira. Aluna, adiknya, menyebut namaku dengan huruf R yang cadel. “Kapan Tante Rumi datang? Kenapa nggak ngasih tahu kami duluan?”
“Lima hari yang lalu. Maaf baru bisa nemuin kalian, soalnya Tante sibuk banget di tempat kerja baru.”
Setelah pelukan terlepas, aku berjongkok menyejajarkan tinggi badan dengan mereka, lalu bergantian mencium kening serta pipi Aira dan Aluna.
“Kakak Aira makin tinggi aja, nih.” Tatapanku kemudian beralih pada Aluna, mencubit kecil pipi gembulnya. “Adek juga. Makannya banyak banget, ya?”
“Banyak, Ante. Adek juga suka telul!”
“Sama bolu p