“Besok aku nikah, Ay.”
Matcha latte yang barusan kuminum nyaris menyembur keluar dari mulut. Kelopak mataku melotot sempurna, bersamaan dengan aku buru-buru menelannya hingga berakhir tersedak dan terbatuk-batuk.
Alih-alih membantu dan menunjukkan perhatian seperti biasanya, pria di depanku justru tak bergeming. Ekspresinya tetap datar, dengan tatapan tak berkedip ke arahku. Dia ... seperti bukan dia yang biasanya, dan aku mendadak tak mengenalinya.
“Mas, tisu,” pintaku setelah berhasil menemukan kembali suara, sambil menepuk-nepuk pelan dadaku.
Pria itu mengambilkannya dan menyodorkannya padaku. Hanya sebatas itu. Dia tidak lagi berinisiatif membantu mengusap air mataku atau menyeka bibirku. Kepeduliannya sudah hilang, entah sejak kapan.
Meski kepalaku dipenuhi banyak pertanyaan soal