Zalima terbaring di ranjang perawatan, tubuhnya masih terasa lemah dan lelah. Di sisi kirinya, Prajaka duduk dalam diam. Dia masih mengenakan kemeja kantor, kusut di bagian lengan karena beberapa kali digulung lalu diturunkan kembali. Tangannya tak lepas dari tangan Zalima sejak mereka dipindahkan ke ruangan ini.
Suara mesin monitor berdetak stabil. Deru napas mereka terdengar pelan, saling bersahutan satu sama lain.
“Kau pasti capek sekali,” ujar Prajaka, memecah keheningan. Nadanya rendah, sedikit serak.
Zalima menoleh, lalu menggeleng pelan. “Aku baik-baik aja.”
Namun Prajaka tahu itu hanya kebohongan kecil untuk menenangkannya. Dia menangkap mata Zalima yang masih berkabut, bibirnya yang sedikit pucat, juga garis letih yang belum sempat pergi dari wajah istrinya. Dia perlahan mengg