“Papa jangan kerja. Kakak Aira mau main sama Papa.”
Aira merengek sambil memeluk kaki papanya. Wajahnya muram, bibirnya melengkung ke bawah, matanya sudah berkaca-kaca. “Papa di rumah aja.”
“Ini bukan hari libur, Nak. Kakak Aira ‘kan tahu, yang namanya kewajiban tidak bisa ditinggal begitu saja. Kita harus jadi orang yang bertanggung jawab.”
“Tapi Kakak Aira mau sama Papa.”
“Nanti, ya. Setelah pulang kerja kita bisa main sepuasnya.”
“Maunya sekarang! Kakak Aira mau sama Papa sekarang!”
Prajaka menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Helaan napas pelan keluar dari bibirnya. Saat mendongak, tatapannya bertemu dengan Zalima. Istrinya itu menggelengkan kepala sambil melambaikan kedua tangan, tanda menyerah. Kalau Prajaka yang lebih tegas saja tidak berhasil membujuk Aira, apalagi Zalima yan