“Astaga, Tuhan!”
Zalima berteriak histeris di pagi buta. Padahal suaminya masih terlelap, begitu pula putrinya.
“Mati aku!” Benda mirip stik es krim terlepas dari genggamannya. Dia menutup mulut dengan kedua tangan, matanya melebar menatap pantulan wajahnya di cermin. “Aira baru dua setengah tahun …”
Tak lama kemudian Prajaka bangun dan berlari tergopoh-gopoh. Dia mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali sebelum memutuskan masuk. “Ada apa, Za? Kenapa berteriak?”
Zalima menoleh perlahan, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku … positif.”
“Positif?”
“Hamil.” Tanpa menatap, telunjuknya menunjuk ke arah tespack yang tergeletak di dekat wastafel. “Dua garis, Kak. Aduh gimana ini? Aira masih terlalu kecil.”
Mulut Prajaka membuka, tapi tak tahu harus berkata apa. Dia mendekati Zalima, sempat men