“Praja jahattt!!!” teriak Zalima lantang. Dia mencengkeram erat seprei, jemarinya gemetar dan telapak tangannya berkeringat. “Praja nyebelinnn!!! Praja … jelekkkk!!!”
“Ya, Za. Maki dia sepuas hatimu, dia pantas mendapatkan itu,” ujar Sekar memberi semangat. Sebelah tangannya menggenggam ponsel yang sambungannya terhubung dengan Prajaka, sementara tangan lain memegang handuk kecil untuk mengelap keringat di pelipis Zalima.
“Tarik napas panjang, Bu … iya, begitu … embuskan perlahan …”
Suara dokter terdengar seperti dari kejauhan, teredam oleh teriakannya sendiri. Lampu di atas menyala terlalu terang. Bau antiseptik menusuk hidung. Keringat dingin membasahi pelipis dan lehernya.
Zalima tidak pernah membayangkan rasa sakit seperti ini. Bukan hanya nyeri fisik—melainkan campuran takut, lela