Suara sendok yang diketuk-ketukkan ke gelas menyita perhatian semua orang di ruang tamu. Riuh obrolan seketika terhenti. Mereka menatap Prajaka dengan sebelah alis terangkat, penasaran sekaligus menunggu apa yang akan dia sampaikan.
“Minta perhatiannya sebentar. Ada yang ingin aku dan Za sampaikan pada kalian.” Saat menyebut nama itu, Prajaka tersenyum sambil menoleh ke arah Zalima. Tatapannya terlihat begitu bahagia, seolah momen ini adalah momen yang paling dia tunggu. “Tapi pertama-tama, kami ingin mengucapkan terima kasih karena sudah datang ke acara arisan di rumah ini. Mungkin ini akan jadi terakhir kalinya kalian berkumpul di sini, karena selanjutnya ...”
“Kenapa terakhir kali, Praja? Apa kau tak berniat mengundang kami lagi?” Bramantya langsung bertanya. Ekspresinya seketika beru