Zalima baru menyadari kalau hormon kehamilan bisa semenyebalkan itu. Prajaka baru pergi dinas ke luar kota selama dua hari, namun bahkan sebelum satu hari pertama berlalu, dia sudah menangis tiga kali hanya karena merindukan pria itu. Meneleponnya pun sudah dia lakukan sampai lima kali—dua diangkat, sisanya tak terjawab karena Prajaka sibuk.
“Bi, aku nggak nafsu makan kalau belum dengar suara Kak Praja,” keluhnya sambil merebahkan kepala di atas meja makan, saat malam tiba. Tangannya mendorong pelan semangkuk rawon buatan Bi Asih—menu yang justru dia minta sendiri untuk makan malam. “Kenapa, sih, di sana dia lembur juga? Kayaknya prioritasnya kerja, kerja, kerja, baru aku.”
Bi Asih tersenyum tipis mendengar keluhan itu. “Pekerjaan dan Ibu itu dua hal yang berbeda, Bu. Mana mungkin bisa d