Suasana ruang tamu kediaman keluarga Dirgantara terasa begitu hening. Belum ada satu kata pun terucap sejak Zalima dan Prajaka dipersilakan duduk di salah satu sofa, tepat di seberang orang tua Prajaka.
“Mereka … marah, ya, sama aku?” bisik Zalima. Tubuhnya tetap tegak, kedua tangannya mengepal di atas paha, enggan mendekat ke arah Prajaka.
“Entah,” bisik Prajaka balik. “Sulit menebak dari ekspresi mereka.”
“Duh … terus aku harus gimana?”
“Hadapi saja. Aku, ‘kan, ada.”
“Kalau mereka cuma diam begini, cara ngehadapinnya gimana?”
“Coba buka pembicaraan dulu. Jangan menebak-nebak. Langsung sampaikan tujuan kita ke sini.”
Bibir Zalima melengkung ke bawah. “Takut dianggap nggak sopan …”
“Tidaklah. Mana mungkin.” Prajaka menggenggam tangan Zalima, ibu jarinya mengusap punggung tangan itu