Begitu pintu apartemen Arumi terbuka, Zalima nyengir lebar sambil melambaikan tangan.
“Um, hai, Rum. Gue … nggak jadi berangkat.”
Mata Arumi langsung melotot sempurna, bibirnya setengah terbuka—campuran antara kaget dan kehabisan kata-kata.
“Boleh gue masuk? Gue mau jelasin kronologinya—”
“Pakai nanya!” Arumi memotong. “Lo emang nggak berhenti-berhentinya bikin gue kaget, ya!”
Begitu berhasil menguasai diri, dia segera menarik tangan Zalima masuk dan menutup pintu dengan kaki. Langkahnya lebar dan tergesa. Setibanya di ruang tamu, Arumi langsung mendudukkan Zalima di sofa panjang, sementara dirinya berdiri dengan tangan terlipat di d**a.
“Bilang ke gue, gimana bisa orang yang harusnya udah di Jerman, tiba-tiba muncul di apart gue dengan wajah tanpa dosa.”
“Ehm, panjang ceritanya. Lo