Langkah Zalima melambat tepat setelah melewati pemeriksaan terakhir. Suara pengumuman keberangkatan bersahut-sahutan di atas kepalanya, bercampur dengan deru koper yang diseret dan percakapan para penumpang lain. Dia menghela napas pendek, berusaha menenangkan dadaa yang terasa sesak, sekaligus menyeka keringat dingin di pelipis yang sejak tadi tak berhenti keluar.
Ayolah, jangan sekarang, bisiknya dalam hati. Setelah pemeriksaan di klinik tadi malam dan diberi obat, kondisinya seharusnya sudah baik-baik saja. Dokter bahkan memperbolehkannya terbang. Jadi kenapa tubuhnya mendadak berkhianat seperti ini?
Namun rasa mual dan pusing itu datang tanpa kompromi. Tak sanggup lagi menahannya, Zalima bergumam lirih, “Sebentar …” sementara satu tangannya berusaha meraih sandaran kursi terdekat.
D