“Nih, makan.” Arumi menyodorkan semangkuk soto. “Gue nggak mau dengar lo muntah-muntah lagi gara-gara maag. Bukannya apa-apa, tapi gue jijik, Za.”
Zalima hanya melirik sekilas isi mangkuk itu, lalu menggeleng dengan wajah hambar—jelas tidak berselera. “Nanti aja. Gue lagi sibuk, mood juga lagi jelek. Mana mungkin bisa nelan sesuatu,” katanya sambil terus memasukkan dokumen-dokumen wajib ke dalam tas kabin.
“Lo gila, ya? Besok sore lo berangkat. Kalau lo sakit, gimana?”
“Pasti sehat, kali. Masa nggak makan seharian langsung tumbang? Emang gue selemah itu?”
Kesabaran Arumi semakin menipis. Begitu Zalima selesai menutup resleting tas kabinnya, Arumi langsung menarik tangannya turun dari ranjang dan menyeretnya duduk di sofa.
“Buka mulut lo. Gue suapin,” perintahnya galak. “Kalau masih no