“Belakangan ini aku sering membandingkan mereka, dan semakin sering pula memandang Za sebagai—”
“Za, ngapain di sini?”
Kedatangan Sekar yang tiba-tiba membuat Zalima gagal menguping lanjutan pembicaraan Prajaka dan kedua orang tuanya. Padahal rasa penasarannya sedang berada di puncak, ingin tahu kelanjutan kalimat pria itu.
“Yuk ke belakang. Anak-anak nyariin. Mereka lagi bikin rujak bumbu kacang buat dimakan rame-rame. Tidak seru kalau kau tidak ikut,” lanjut Sekar.
“Eh, itu … tadi aku mau manggil Kak Praja, Mbak. Tapi—”
“Sudah, biarin saja dia. Nanti juga nyusul sendiri,” potong Sekar. “Yang penting kau duluan ikut aku.”
Sekar mengamit lengan kanan Zalima, lalu menariknya menjauh dari tempatnya menguping—di samping pintu ruang tengah yang sedikit terbuka.
Mereka menuju taman belak