Zalima: [Masih lama pulangnya? Orang-orang rumah nungguin kamu.]
Prajaka hanya membaca sekilas pesan itu. Tanpa membalas, dia kembali mengunci layar ponselnya, lalu menyelipkannya ke dalam saku jas. Setelah melirik arloji di pergelangan tangan kirinya, helaan napas berat keluar bersamaan dengan kepalanya yang mendongak.
“Kira-kira berapa lama lagi kita menunggu, Pak?” tanyanya sambil melirik kaca spion tengah.
“Mungkin kurang dari dua puluh menit lagi, Pak. Mobil yang menjemput Bu Stevani di bandara sudah berangkat lima belas menit yang lalu,” jawab Pak Haris.
Prajaka lantas menyandarkan punggungnya ke kursi, memejamkan mata beberapa saat dengan harapan ketika dia membukanya nanti, orang yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Dia ingin menyelesaikan semua ini secepat mungkin—agar bisa pulang