Saat membuka mata, Prajaka sudah tak ada di sampingnya. Namun kehangatan pria itu masih bisa Zalima rasakan lewat tubuhnya yang telah dibersihkan dan dipakaikan piyama. Di atas nakas juga ada segelas susuu yang tak lagi hangat, ditemani dua lembar roti panggang.
Sebuah catatan terletak di samping piring. Zalima bangkit perlahan, mengambilnya, lalu membacanya sebelum bersandar pada headboard ranjang.
Ini buatan Bi Asih, aku hanya membawanya ke kamar. Habiskanlah, kali ini aku tidak melarangmu minum s**u lagi.
—Prajaka
Zalima melirik kembali ke arah nakas. Helaan napas terembus pelan dari bibirnya. Prajaka yang perhatian tak pernah gagal membuat perasaannya menghangat. Belum lagi ada kepuasan yang tak bisa dia jelaskan setelah apa yang mereka lakukan tadi malam. Hanya saja, di hatinya te