Stevani menatap layar ponselnya. Ada sepuluh panggilan tak terjawab—tujuh dari mamanya, tiga dari adiknya. Pesan-pesan yang masuk pun seluruhnya berasal dari mereka. Tidak ada satu pun dari Prajaka. Padahal sudah tiga hari dia tidak pulang ke rumah.
Pria itu semakin abai padanya. Kehadiran Zalima perlahan namun pasti menggeser Stevani dari benaknya. Prioritas Prajaka sudah berubah. Jika dulu dia selalu menyempatkan waktu untuk menemui Stevani atau sekadar mengirim pesan singkat sebagai bentuk perhatian, kini semua itu nyaris tidak terjadi lagi.
Dan yang paling menyakitkan, Prajaka bahkan tidak menyadari betapa jauh dia telah melangkah menjauhi Stevani. Baginya, tidak ada yang berbeda—sementara Stevani merasakannya dengan sangat jelas.
“Apa yang membuatmu terlihat sedih saat melihat laya