Sebelum yang lain bangun tidur, Prajaka sudah pergi dari rumah orang tuanya. Dia hanya menitip pesan pada salah seorang pelayan untuk memberitahu bahwa dia pulang ke rumah jika nanti ada yang mencarinya.
Zalima saja masih lelap saat Prajaka meninggalkan kamar. Salah satu alasannya berangkat pagi-pagi buta adalah menghindari wanita itu. Prajaka tidak ingin berakhir marah-marah kalau berhadapan dengan Zalima dalam kondisi sadar. Orang tua atau kakaknya pasti akan heran kalau melihatnya tiba-tiba emosian.
Sekitar dua puluh menit mengendarai mobil, Prajaka tiba di carport rumahnya. Bi Ina yang kebetulan sedang menyapu teras membungkuk singkat untuk menyapa. Tak lupa dia bertanya, “Pagi sekali pulangnya, Pak. Ibu mana?”
“Masih di rumah utama. Dia baru pulang setelah nanti selesai foto keluar